https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWkWlCIJp82uFaO_rqa4kYaspmXcHxteJYN7XyaALItXVAgZWMNERegUdXDgA1giOMyR10w8Mt_G4M3mKZ-PZYErArWYN9bEumhiHUX9yJBeDDAC0I7eUQb0FSlbL7JnxOA7DYh3c278jc/s1600/WebBanner-928x90.gif

Rabu, 19 Oktober 2016

Anak Tiri Yang Ternoda



Anak Tiri Yang Ternoda – Yunita telah mulai bersiap-siap untuk kembali Yogyakarta setelah seminggu berada di desa kelahirannya. Telah bulat tekadnya bahwa kedatangannya ke desa kelahirannya di pulau bali kali ini adalah yg terakhir kali, bukan karena Yunita telah menjadi angkuh dan lebih senang di kota besar, melainkan ada sebab lainnya. Telah terpenuhi tugasnya sebagai putri yg berbakti yaitu menghadiri dan mendampingi ibu kandungnya disaat-saat terakhir sakit dan sampai menutup mata serta dimakamkan.

Yunita yg berwajah cantik itu adalah seorang jururawat dgn kedudukan cukup mantap dan baik di sebuah rumah sakit terkenal di ibukota. Ia telah menikmati pendidikan sebagai jururawat bukan saja di Yogyakarta, namun telah dilanjutkannya di Amsterdam, Belanda dan memperoleh ijazah perawat internasional.

Cerita sex terbaru, Oleh karena itulah setelah kembali dan memperoleh pekerjaan di Yogyakarta, hanya dalam waktu singkat Yunita – dgn nama lengkap sebenarnya Putri Yunita, telah menduduki jabatan kepala dari seluruh team perawat, termasuk bagian operasi dan jg ICU/CCU – meskipun usianya baru 22 tahun dan belum berkeluarga karena sibuk dgn tugasnya sehari-hari di tempat kerja.
Telah banyak dokter-dokter muda yg mengincarnya namun belum ada satupun yg dapat merebut hati si perawat cantik ini. Ibu kandungnya yg tetap tinggal di desa telah menikah lagi beberapa tahun lalu karena suaminya telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Sebagai “janda kembang” berusia awal empat puluhan dan masih terlihat anggun menarik, tak mudah hidup di desa pedalaman, selalu dijadikan bahan pergunjingan.

Yunita sebenarnya tak begitu senang bahwa ibu kandungnya menikah lagi – apalagi ketika diketahuinya bahwa ayah tirinya adalah Kades Abdul yg terkenal “hidung belang” dan sering main gila dgn istri orang lain. Abdul telah tiga kali menikah dan semua pernikahannya kandas karena perselingkuhannya. Terbukti pada saat duduk di pelaminan bersama dgn ibunya, terlihat sering sekali mata Abdul mampir ke arah Yunita anak tirinya seolah ingin menelanjangi tubuhnya, membuat Yunita resah dan tak betah.

Jilbab Tudung Yunita putri aulia Oleh karena itu pula Yunita jarang pulang ke desa kelahirannya karena segan bertemu dgn ayah tiri yg mata keranjang itu, justru sang ibu yg lebih sering datang ke kota mengunjungi putrinya dan selalu menanyakan kapan kiranya putri semata waygnya itu akan menikah dan mempunyai keturunan.

Sebelum keinginan mempunyai cucu dari putrinya tercapai terjadilah musibah tak terduga: desa kecil itu mengalami wabah demam berdarah – dan salah satu korbannya adalah ibu kandung Yunita. Entah karena memang daya tahan tubuhnya kebetulan sedang lemah atau ada faktor lain, maka proses sakit ibu Yunita itu sangat cepat dan hanya dalam waktu tak ada 2 hari langsung meninggal akibat pendarahan hebat. Kesedihan Yunita tak dapat diuraikan dgn kata-kata, namun sebagai seorang yg taat beragama maka Yunita menerima tabah percobaan yg menimpanya.

Semua acara adat dan tradisi desa diikuti oleh Yunita dgn patuh, semua kebiasaan ritual yg sangat melelahkan dijalankannya pula. Selama upacara sampai dgn pemakaman selesai, Yunita selalu memakai chadar tipis berwarna hitam dan demikian pula jilbab dgn warna serupa. Dihadapan semua yg hadir sebelum jenazah ibunya dimakamkan, Yunita berjanji akan selalu memakai jilbab putih selama satu tahun – jg selama menunaikan tugasnya di RS sekembalinya di yogyakarta , ini sebagai tanda penghormatan dan jg masih berkabung.
Dgn dalih bahwa masih ada sedikit warisan dan peninggalan pribadi ibunya almarhum yg masih harus diurus dan setelah itu disimpan sendiri oleh Yunita, maka sang ayah tiri Abdul dan putra kandungnya (kakak tiri Yunita) bernama Ghazali dgn nama panggilan Ali meminta agar Yunita tak langsung keesokannya kembali ke ibukota, melainkan menginap satu dua malam lagi setelah acara duka cita dgn penduduk desa selesai.

Sebetulnya Yunita telah ingin segera meninggalkan ayah dan kakak lelaki tirinya secepat mungkin, tapi dgn muslihat kata-kata keduanya mengemukakan bahwa apalah pandangan penduduk desa jika putri satu-satunya langsung meninggalkan desa kelahiran sementara tanah pemakaman ibunya masih basah.

Akhirnya Yunita mengalah dan menelpon RS tempatnya bekerja bahwa ia baru akan kembali bekerja dua hari kemudian – sebuah kesalahan yg tak dapat dibayar atau ditebus kembali dgn apapun. *** Di sore hari itu hujan turun dgn amat deras – disertai suara petir dan guntur silih berganti, karena itu jalanan diluar sepi tak ada tukang jualan.

Setelah makan malam bersama ayah dan kakak laki tirinya, Yunita dgn sopan santun mengundurkan diri masuk kamar tidurnya dan mulai membenahi pakaian di kopernya. Karena malam minggu maka para pembantu pun diizinkan Abdul pulang ke rumah masing-masing. Abdul dan Ali jg berpamitan dgn Yunita dan mengatakan bahwa mereka masih harus selesaikan pelbagai urusan kantor di kelurahan yg jg ada hubungannya dgn persoalan catatan sipil.

Tanpa curiga dan bahkan merasa lega, Yunita melepaskan kedua laki-laki itu dan melihat mereka menghilang di tikungan sudut jalan dgn mengendarai motor masing-masing di tengah arus hujan lebat. Sangat naif sekali Yunita mengira bahwa keduanya betul-betul pergi – padahal mereka hanya naik motor sekitar tiga menit, menyembunyikan motor mereka di belakang ruangan sholat pelataran jual pompa bensin, lalu dgn memutar jalan kaki sedikit telah kembali lagi memasuki kebun belakang rumah.

Hujan yg sangat deras disertai bunyi petir dan guntur memudahkan dan menutup semua bunyi langkah kaki mereka ketika memasuki pekarangan rumah dari belakang. Bahkan bunyi terputarnya kunci pintu belakang sama sekali tak dapat didengar oleh Yunita yg merasa aman seorang diri di rumah dan sedang bersiap untuk mandi menghilangkan kepenatan tubuhnya.

Baju tidur telah digantungnya di kamar mandi, demikian pula celana dalam bersih putih berbentuk segitiga kecil, sedangkan bh-nya yg berukuran 34B serta celana dalam yg dipakainya telah dilepaskan dan terletak di ranjang. Hanya jilbab hitamnya masih menutup rambutnya yg bergelombang melewati bahu, sedangkan badan yg langsing namun sintal menggairahkan setiap lelaki dibalut dgn kain batik kemben.
Sebagaimana pada umumnya wanita pedesaan yg akan mandi di sungai, maka kain kemben itu dibawah menutup setengah betis sedangkan bagian atas pas-pasan dilipat di tengah melindungi tonjolan buah dada. Dgn hanya terlindung balutan kain kemben itu Yunita keluar dari kamar tidurnya untuk berjalan lima meter memasuki kamar mandi namun merasa aneh bahwa lampu di gang mati padahal dua menit lalu masih menyala ketika ia membawa celana dalam bersih, baju tidur dan handuk ke kamar mandi itu.

Yunita putri aulia Disaat Yunita meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disergap dari belakang dan sebelum ia sempat berteriak, mulutnya jg dibekap dan disumbat oleh seseorang. Meskipun sangat kaget, Yunita langsung berontak sekuat tenaga dan berusaha menendang ke kiri dan ke kanan, namun pukulan tinju keras menghantam ulu hati, membuatnya kehilangan nafas dan menjadi lemas lunglai.

Kesempatan ini segera dipakai oleh salah satu lelaki penyergapnya yaitu Abdul untuk menggendong dan membawa Yunita ke kamar tidurnya sendiri yg memang letaknya paling dekat dgn kamar mandi. Sementara itu Ali mengencangkan kembali sekring listrik yg tadi sengaja dikendorkan sehingga tak ada aliran listrik, kemudian kembali ke kamar Yunita untuk membantu ayahnya menikmati mangsa mereka.

Lampu yg telah menyala kembali kini memberikan cahaya cukup, menampilkan dgn jelas apa yg sedang terjadi di kamar tidur : Yunita si cantik direbahkan di tengah ranjangnya sendiri yg cukup besar. Tubuhnya nan ramping namun sintal menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari tindihan ayah tirinya, Abdul, yg penuh kerakusan sedang melumat bibir Yunita dgn mulut besarnya yg berbau rokok. Abdul tahu bahwa putri tirinya ini sangat benci terhadap lelaki merokok – oleh karena itu ia senang sekali saat ini dapat melumat mulut Yunita dgn bibir manisnya hingga membuatnya membuka dan menerima uluran lidah penuh ludah berbau rokok miliknya.

Terlihat Yunita berusaha selama mungkin menahan nafas agar tak mencium bau yg sangat tak disenanginya itu, namun akhirnya terpaksa menerima limpahan ludah sang ayah tiri serta lidahnya yg berusaha mengelak kini telah ditekan dan disapu-sapu oleh lidah ayahnya yg kasar itu. Akibat rontaan Yunita maka kain batik kemben yg menutup tubuhnya hanya sampai batas atas dada itupun terlepas dan dgn mudah ditarik ke bawah oleh Abdul dan Ali, kemudian diloloskan melewati pinggul Yunita yg bergeser menggeliat ke kanan dan ke kiri dgn tdk teratur sehingga kini tubuhnya polos bugil tanpa tertutup sehelai benangpun, menyebabkan kedua lelaki durjana itu makin bernafsu melihatnya.

Yunita mulai mengalirkan air mata karena sadar nasib apa yg akan segera menimpanya dan menyesali dirinya sendiri kenapa mau dibujuk untuk menginap lagi dua malam di rumah yg dihuni dua srigala itu. Abdul tak perduli akan tangisan putri tirinya karena nafsu birahi yg selama ini tertahan sudah naik ke ubun-ubunnya, didudukinya perut datar Yunita hingga gadis itu jadi sukar bernafas dan kembali diciumi berulang-ulang bibir ranum Yunita, kembali dijarahnya rongga mulut Yunita yg hangat dgn lidah kasarnya.

“Eeeehmmm, emang dasar perawat dari kota, mulut atasnya aja harum begini, gimana mulut bawahnya… sebentar lagi abah mau nyicipin, nyerah aja ya nduk, percuma teriak enggak ada yg denger,” demikian celoteh Abdul sambil berulang-ulang meneteskan ludah yg bau, membuat Yunita merasa amat mual.

“Iya, percuma berontak, pasti cuma akan makin pegel dan sakit badannya. Ikut aja nikmati permainan kita berdua, pasti belon pernah ngalami ginian kan di kota?” ujar Ali menyebabkan Yunita semakin takut.

Sementara itu Ali tak mau kalah dan ikut beraksi : kedua kaki Yunita yg menendang kesana-sini, ke kiri dan ke kanan, dgn sigap ditangkap dan dicekalnya di pergelangan sehingga Yunita jadi sukar berontak lagi. Tak hanya sampai disini saja : telapak kaki Yunita yg halus licin dan peka diciumi dan dijilat-jilatnya, membuat Yunita terkejut dan semakin menggelinjang kegelian. Apalagi ketika satu persatu jari kakinya dikulum oleh Ali, celah jari kakinya jg dijilat-jilat, membuat ronta kegelian Yunita semakin sukar dikendalikan, dan ini menambah nafsu birahi Abdul yg tengah menindih tubuhnya.

Kedua pergelangan tangan Yunita direjangnya diatas kepala yg masih tertutup jilbab sehingga tampak ketiak tercukur licin yg menjadi sasaran ciuman dan gigitan Abdul sehingga mulai muncul cupangan-cupangan merah disana. Yunita yg kini lepas dari ciuman buas ayah tirinya berteriak sekuat tenaga, namun deras hujan angin disertai dentuman petir dan guntur menutup teriakan minta tolong memelas hati itu. Abdul merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Yunita diatas kepalanya dgn tangan kiri sementara tangan kanannya kini mulai meremas-remas bukit gunung kembar di dada putri tirinya yg amat menggemaskan itu.

Buah dada putih montok kebanggaan Yunita yg sampai saat ini tak pernah disentuh lawan jenisnya kini menjadi sasaran Abdul : selain diremas dan dipijit dgn kasar, putingnya yg berwarna merah tua kecoklatan itu jg diraba dan diusap-usap, sesekali jg ditarik, dipilin bahkan dipelintir ke pelbagai arah oleh Abdul, mengakibatkan rasa geli dan sekaligus jg ngilu tak terkira bagi Yunita.

Yunita putri Yunita tetap berusaha berontak sambil menangis sesenggukan, wajah cantiknya terlihat semakin ayu manis tetap di bawah jilbab hitamnya, tapi dirasakannya daya tahannya untuk melawan semakin berkurang. Abdul yg telah sering menggarap banyak perempuan entah yg telah bersuami, maupun janda dan bahkan jg perawan di desa sekitar situ merasakan bahwa perlawanan Yunita mulai menurun.
“Hehehe, mulai lemes ya, Nduk? Gitu donk, pinter banget nih anak manis, ntar lagi diajak ngerasain apa itu surga dunia, tapi sekarang belajar dulu gimana ngisep sosis desa alamiah. Nih sosis makin diisep makin jadi gede, ntar malahan bisa keluarin sari jamu awet muda, mau nyoba kan?” seringai Abdul.

Yunita tdk langsung mengerti maksud kata-kata Abdul, ia merasakan tubuh ayah tirinya yg hampir delapan puluh kilo itu kini tak menduduki perutnya, melainkan bergeser ke atas dan meletakkan kedua lututnya hampir setinggi lipatan ketiaknya, sehingga dalam posisi ini wajah cantik Yunita langsung berhadapan dgn selangkangan Abdul.

Dgn tetap merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Yunita ke kasur dgn satu tangan kiri saja, Abdul kini dgn sigap melepaskan ikat pinggang serta ritsluiting celananya. Sebagai wanita dewasa dan jururawat, Yunita kini paham apa kemauan Abdul dan dgn penuh ketakutan berusaha mati-matian meronta.

Tercium bau tak menyenangkan dari celana dalam ayah tirinya yg mungkin hari itu belum diganti – yg mana segera diturunkan pula oleh Abdul dan bagaikan ular Cobra yg mencari mangsanya, keluarlah rudal kebanggaan Abdul. Yunita putri aulia Kemaluan Abdul yg besar panjang berurat-urat serta di-khitan itu kini mengangguk-angguk di depan wajah Yunita yg berusaha melengos ke samping. Reaksi penolakan semacam ini sudah biasa dialami dan ditunggu Abdul.

“Hehehe, biasa tuh perempuan, selalu malu-malu ngeliat barang lelaki, padahal dalam hati kecil udah pingin ngerasain ya. Tapi sebelumnya bikin si Otong makin binal, ayooh buka tuh bibir lebar-lebar, kulum, isep dan jilat dulu nih sosis alam sampe ngeluarin pejuh obat awet muda.” Yunita merasa amat jijik melihat k0ntol Abdul dan tak mau menyerah begitu saja, namun ayah tirinya sudah berpengalaman bagaimana mengatasi penolakan perempuan – dicubitnya puting susu Yunita yg telah tegak mengeras dgn memakai kukunya sehingga Yunita menjerit kesakitan atas perlakuan sadis ini.

Kesempatan ini telah dinantikan ayah tirinya : segera alat kelelakiannya yg memang telah bersiap di depan wajah Yunita ditempelkan ke bibirnya yg tentu saja Yunita segera menutupnya kembali. Abdul menyeringai sadis dan kini jari-jarinya yg sedang mencubit puting susu Yunita dipindahkan untuk memencรฉt hidung mancung bangir milik putri tirinya sehingga Yunita kelabakan megap-megap mencari udara, otomatis tanpa dikehendaki mulutnya kembali membuka.

Kali ini tanpa ada ampun lagi kejantanan Abdul menerobos masuk diantara kedua bibir basah merekah dan memasuki rongga mulut Yunita yg hangat basah. Yunita merasa sangat jijik dan ingin mengeluarkan kemaluan yg sedang memerawani mulutnya itu, namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dikeroyok dua laki laki perkasa, apalagi kini ayah tirinya kembali merejang kedua tangan ke atas kepalanya yg masih tertutup jilbab, sedangkan tangan satunya tetap memencรฉt hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas.

Abdul kini mulai memaju-mundurkan k0ntolnya di mulut Yunita, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Yunita tersedak setiap kalinya, ingin batuk tapi tdk bisa.
“Hehehe… nah, gimana rasanya, Nduk, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? Abah enggak bohong lan! Iyaaa… mulai pinter nyepongnya, teruuus… iyaaa… gituuuu… kulum nyg bener! Aaaaaah… pinteer emang putri abah satu ini! Ayo, iseeeep nyg kuaaat… jilaaaat… iyaaa… abah udah mau keluaar nih, ooaaah!!!” akhirnya Abdul hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari k0ntolnya ke mulut Yunita.

Ujung kemaluan Abdul kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Yunita di ujung kerongkongannya, menyebabkan Yunita berkali-kali tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan Abdul terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya…

“Aaaaaah… iyaaaaaaa… nduuuuuk… ini abah keluaaaaar! Pinter banget, Nduuk… ayo, jangan ada yg dibuang! Teguk, abisin semuanya, Nduuuk… aaaah… iyaaaaa!!” Abdul menggeram bagai binatang buas disaat ia dgn penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Yunita.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (3) Berbeda dgn Abdul yg sedang dilanda orgasme, Yunita merasa sangat terhina dan terpaksa menghirup sperma ayah tiri yg saat itu sangat dibencinya. Cairan kental hangat itu bagai tak henti menyembur dari lubang di puncak kemaluan Abdul, memenuhi kerongkongan Yunita, terasa sepat agak asin dgn bau khas sperma laki-laki.

Pertama kali merasakannya membuat perawat cantik berkudung ini tersedak ingin muntah. Namun Abdul bukan anak kemarin sore yg baru masuk usia belasan – kedua tangannya dgn sangat kuat segera memegangi kepala Yunita yg berjilbab sehingga Yunita jadi tak berkutik sama sekali, k0ntol Abdul yg memang besar tetap memenuhi rongga mulut mangsanya dgn sempurna sehingga tak ada ruangan bagi Yunita untuk melepehkan cairan yg dirasakannya sangat menjijikkan itu.

Yunita hanya dapat mencakar-cakar lemah kaki Abdul dgn kukunya yg rapih terawat karena lengan atasnya telah ditindih dan ditekan ke kasur dgn kasar oleh lutut ayah tirinya sehingga tdk banyak dapat digerakkannya untuk melawan. Teguk demi teguk air mani Abdul terpaksa harus ditelannya karena jika tdk maka pasti akan masuk memenuhi dan mencekik jalan nafasnya. Yunita mengharapkan agar nasibnya dijarah kedua lelaki itu telah berakhir disini, namun dugaannya itu sia-sia belaka – ini baru babak pertama penderitaannya.
Setelah sang ayah tiri menarik k0ntolnya dari rongga mulutnya, maka kini giliran sang kakak tiri menagih bagiannya dgn tentunya mendapat bantuan dari sang ayah. Abdul berlutut di samping kiri badan Yunita dan tetap mencekal menekan kedua nadi putri tirinya yg langsing diatas kepalanya yg masih tertutup jilbab dgn tangan kanannya ke kasur, sementara tangan kirinya kembali mengusap-usap buah dada korbannya, Abdul meremas-remas, memijit-mijit dan menyentil-nyentil puting Yunita.

Serangan bertubi-tubi ini kembali menunjukkan hasilnya karena bagaimanapun Yunita berusaha menekan gejolak birahinya, namun tubuhnya yg bahenol penuh dgn hormon kewanitaan kembali mulai mengkhianatinya. Kedua putingnya yg memang selalu mencuat ke atas dirasakannya semakin hangat gatal dan geli menginginkan ada tangan yg meremasnya. Namun karena tangannya sendiri di rejang ke kasur, maka yg dapat dilakukannya secara tanpa disadari adalah melentingkan tubuh bagian atasnya sehingga buah dadanya semakin membusung keatas.

“Hehehe, nikmat ya, Nduk? Enggak usah malu-malu deh, enak ya pentilnya dirangsang, ntar lagi abah sama Ali pingin ngerasain susu asli, nih abah bantuin supaya keluar susunya,” Abdul bersenyum cabul lalu menundukkan kepalanya dan mulai menyusu di bongkahan payudara Yunita, mulutnya menyedot-nyedot sambil sesekali menggigit puting susu Yunita yg begitu merangsang.
“Aaah, auuw, oooh, udah dong abaah… jangan diterusin, enggak mauu… jangaaaan, lepasiiin, iieeempppphh, eeehhmmmp, jangaaan!” keluh si gadis cantik tanpa daya sambil terus menggeliat-geliat penuh keputus-asaan.

Namun itu semua hanya makin memacu nafsu birahi dan kebuasan kedua lelaki pemerkosanya. Sementara itu, Ali telah menempatkan diri diantara kedua paha Yunita yg begitu halus mulus dgn kulit putih kuning langsat. Kedua tangannya tak henti-henti mengusap-usap betis belalang Yunita – menyentuh dgn mesra kemudian meneruskan elusannya semakin naik ke arah paha, naik dan terus naik menuju ke arah selangkangan Yunita. Nafas kedua lelaki jahanam itu semakin berat mendengus-dengus melihat indahnya bukit kemaluan Yunita – bukit intim itu ternyata licin karena selalu dirawat dan dicukur tandas oleh sang empunya.
“Wuuiiih, memang lain ya perawat dari kota, memeknya kelimis begini, pasti sering diurut dan mandi spa ya?! Abang pengen nyicipi air celah perawan, pasti manis madunya, betul enggak, Neng?” goda Ali.

Tanpa menunggu jawaban, Ali merebahkan diri diantara kedua paha Yunita dan mendekatkan wajahnya ke arah selangkangan yg begitu merangsang nafsu setiap lelaki yg melihat itu. Ali menelungkupkan diri di antara kedua paha mulus yg dipaksa untuk dibuka lebar, betapapun Yunita berusaha mengatupkannya, namun tenaganya kalah dgn kedua lengan Ali yg sangat berotot.
“Emmmhhhh… emang bener, harum banget nih mรฉmรฉk, pake sabun apa sih, Neng? Atau selalu diolesin minyak wangi ya?” tanya Ali sambil mulai mengecup dan menciumi bukit kemaluan Yunita.

Lidahnya yg kasar tak kalah dgn sang bapak mulai menjelajahi bukit gundul kemaluan Yunita, Ali menjilat dan membasahinya dgn ludahnya, telaten ia menelusuri celahnya yg masih rapat karena belum pernah diterobos siapapun. Bibir kemaluan luar pelindung celah kewanitaan Yunita mulai dibuka oleh jari-jari Ali disertai dgn jilatan naik turun, sesekali berputar, merintis jalan memasuki bagian dalam yg berwarna kuning kemerahan.
“Jangaaan, udaaaaah, sialaaaan, anjiing semuanya, enggak malu dua lelaki main keroyokan dgn perempuan!! Oooooh, udaaaah, stoooop, jangan diterusin, aaaaaah!” Yunita semakin menggeliat geli dan menahan gejolak naluri kewanitaannya yg semakin lemah menginginkan penyerahan total.

“Baguuus amat nih mรฉmรฉk, haruuuum, enggak ada bau pesing sedikitpun, enggak seperti punya lonte desa, rejeki banget bisa ngerasain yg kaya begini,” Ali menjilat semakin ganas sambil menceracau tak karuan.
Gerakan paha mulus Yunita yg mengatup membuka tak teratur tak dipedulikannya karena penjelajahannya kini semakin dalam sampai lidahnya menemukan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yg tersembunyi diantara lipatan bibir kemaluan Yunita bagian dalam.
“Ini dia yg gue cari dari tadi, horeeee akhirnya ketemu jg butir jagung paling lezat… eeeemh, cuppp, cupppp, legitnya nih daging… si neng rupanya enggak disunat ya, jadi ngumpet tuh butir jagung. Tapi udah ketemu nih, jadi perlu diberikan pelayanan extra ya, Neng.” demikian sindir Ali yg kemudian tak berkata-kata lagi karena asyik menjilati kelentit Yunita yg semakin terlihat menonjol keluar.
Aaaaaah, lepaaaaas, lepaaaaaskan, jangaaaan, enggaaaak mauuuuu, oooooooohh, emmmppfhhhh,” suara teriakan putus asa Yunita menggema di malam yg dingin itu, namun tetap dikalahkan oleh bisingnya suara hujan menimpa atap rumah, ditambah pula semakin seringnya gema petir dan guntur yg menggelegar menakutkan.

Abdul yg kembali tak sanggup menahan syahwatnya melihat tubuh Yunita yg telanjang bulat putih mulus meronta-ronta tak berdaya berusaha melawan rangsangan kakak tirinya yg dgn asyik melumat dan menggigit-gigit kelentitnya yg semakin lama semakin memerah, kembali mendekap dan menciumi mulut putri tirinya itu sehingga teriakan Yunita segera teredam.
Sementara itu Ali terus meningkatkan rangsangannya terhadap klitoris Yunita – dijepitnya daging mungil amat peka itu diantara bibirnya yg tebal dan dowรฉr, kemudian dijilatinya dgn penuh nafsu dan semangat sambil sesekali digosok-gosoknya kelentit yg semakin membengkak itu dgn kumis baplangnya dan jg janggutnya. Terutama janggutnya yg hanya tumbuh beberapa milimeter, bagaikan sapu ijuk kaku sehingga sentuhannya dirasakan oleh Yunita ibarat klitorisnya sedang digosok dgn sikat – itu tak dapat ditahan lagi oleh pusat susunan syaraf Yunita yg kini sedang dipenuhi oleh hormon birahi kewanitaannya.

Jutaan bintang kini meledak dihadapan matanya mengiringi gelombang orgasme bagaikan angin taufan menghempas tubuhnya yg melambung ke atas, Yunita mengejang beberapa menit ibarat terkena aliran listrik tegangan tinggi, jeritan yg seharusnya melengking, tertahan oleh mulut dan lidah Abdul, hingga akhirnya badan Yunita melemas dan terhempas kembali ke atas ranjang , menggelepar bagaikan orang sekarat.

Inilah saat yg telah dinantikan oleh kedua lelaki itu – sampai taraf ini mereka akan meruntuhkan pertahanan Yunita : dari perempuan alim berjilbab yg belum pernah disentuh lelaki menjadi wanita binal mendambakan kehangatan tubuh lelaki. Sesudah itu mereka akan bergantian dan jg sekaligus menikmati tubuh Yunita namun dgn cara lebih mesra dan hanya dimana perlu akan sedikit saja dikasari secara halus. Mereka telah telah merencanakan siapa lebih dahulu menikmati lubang yg mana, bahkan mereka sebelumnya telah melakukan undian.
Dalam undian itu Abdul akan pertama merajah mulut atas Yunita dan memaksa menikmati air maninya, sedangkan Ali mengoral mulut bawah sehingga gadis malang itu mengalami orgasme pertamanya. Setelah itu mereka akan bergantian tempat – Ali memaksa Yunita mengoralnya dan menikmati lagi pejuh lelaki kedua dalam hidupnya sementara Abdul akan merebut kegadisan putri tiri yg memang sudah diidamkannya sejak lama. Dan babak terakhir mereka berdua akan threesome mengajarkan Yunita untuk di”sandwich” : Abdul tetap berada di bawah dan menikmati kehangatan celah kewanitaan yg baru direnggutnya , sedangkan Ali akan merenggut keperawanan Yunita yg kedua dgn menembus lubang bulat kecil di belahan pantatnya.

Dalam pelaksanaan maksud jahat mereka itu, keduanya telah sepakat bahwa Yunita akan mereka telanjangi terkecuali jilbab di kepalanya – ini akan memberikan lebih rasa kebanggaan dan ego yg tersendiri : mereka berhasil menjarah seorang gadis alim dan taat tata susila, merebut keperawanannya dan diakhir pergulatan mereka akhirnya si gadis menjadi wanita dewasa yg ke arah dunia luar tetap terlihat alim berjilbab namun di dalam tubuhnya telah terbangun nafsu birahi bergejolak, membuatnya menjadi wanita binal.
Kedua lelaki ayah dan anak itu saling berpandangan penuh kepuasan melihat korban mereka tergelimpang lemah lunglai dilanda kenikmatan. Untuk beberapa saat bahkan keduanya tak perlu memegang, merejang atau bahkan menindih tubuh Yunita, karena si gadis yg telah mandi keringat akibat orgasme pertamanya itu sedang “menderita” kelemasan. Tubuh Yunita yg sedemikian sintal dan bahenol hanya kejang-kejang lemah tanpa busana disertai sesenggukan tangisnya – saat itu tak sadar harus melindungi auratnya yg sedang dijadikan kepuasan mata para pemerkosanya.

Kini Ali dan Abdul menukar posisi mereka untuk memulai babak kedua aksi mereka : Ali dalam posisi rebah setengah menyamping di sisi kiri Yunita, memegangi kedua tangan Yunita di atas kepala yg masih terhias jilbab satin hitam. Tangan kiri Ali kini mendapat kesempatan untuk ekspedisi naik turun gunung daging putih yg disana sini agak merah akibat jamahan kasar Abdul tadi.
Sesuai dgn rencana maka Ali kini mempermainkan buah dada mangsanya dgn lebih halus daripada ayahnya. Ali meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dgn penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yg sangat langka, mengusap-usap dgn sangat hati-hati.

Jari-jari tangan Ali menaiki lerengnya yg terjal dan dgn lembut menuju ke arah puncaknya yg berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya. Dan memang Yunita mulai mendesah mengeluh perlahan dgn mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yg sangat berbeda dgn kekasaran yg dialaminya tadi oleh Abdul.

“Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau nรฉtรฉk dulu ah, boleh ya?” celoteh Ali sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Yunita, menyebabkan Yunita semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.
Sementara itu Abdul telah menempatkan diri diantara paha Yunita – mulutnya dgn bibir tebal berkilat karena berulang kali dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa. Yunita masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yg akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yg demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

Abdul kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Yunita, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Yunita yg tercukur rapi. Kini Yunita mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yg basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya.

Selangkangan Yunita yg masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh Ali, kini kembali dipaksa menguak. Kedua pahanya yg sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Yunita menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Abdul – sementara mulut dowรฉrnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Yunita sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

“Duuuuh, sialaaan! Ini mรฉmรฉk emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh… kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!” Abdul berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Yunita.
Lidahnya yg kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Yunita, menjilati dinding yg telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam memek kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yg dicarinya. Kembali Yunita diterpa rasa kegelian yg tak terkira, klitorisnya yg beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah Ali sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembali.

Ibarat seorang yg baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah – kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekali lagi mendaki ke arah puncak. Yunita tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yg sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.
Yunita berusaha menekan semua perasaan nikmat yg semakin menguasai tubuhnya, badannya yg sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dgn memperlihatkan reaksi “dingin” itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka. Sayang sekali lawan yg dihadapinya – terutama Abdul bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yg sedang dikuasainya.

Bibir Abdul yg tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Yunita diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dgn gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dgn sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang. Diserang dgn cara sangat ampuh seperti ini, Yunita akhirnya harus mengakui kekalahannya – rambutnya yg hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya jilbab penutupnya yg masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembali kejang di orgasme keduanya.

“Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!” kembali Yunita melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembali mulutnya tertutup oleh bibir Ali yg berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dgn penuh kemesraan.
Abdul merasa puas melihat hasil rangsangannya – ia tahu bahwa di saat ini Yunita sedang dilanda badai orgasme lagi – dan saat ini adalah saat yg terbaik untuk menembus celah memeknya. Tak ada rasa yg lebih nikmat bagi Abdul ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding memeknya berdenyut berkontraksi karena orgasme. Saat itu adalah saat paling membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan k0ntolnya menembus liang kewanitaan wanita yg seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan.

Semuanya itu disertai dgn wajah si wanita yg seolah-olah tak percaya dgn apa yg terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat. Abdul kini telah berhasil menempatkan kepala k0ntolnya yg keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yg melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala k0ntolnya yg gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dgn lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki memek putri tirinya.

Mili demi mili, sang k0ntol maju menusuk membelah celah yg belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu – disertai rasa kepuasan Abdul namun penderitaan bagi Yunita yg menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yg selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak. Habislah harapan muluk Yunita untuk memasuki malam perkawinan dgn kesucian yg utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dgn penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

Sesuai dgn rencana maka saat ini Abdul tak memperlakukan Yunita dgn kasar, ia tdk menusuk secara brutal membabi buta ke dalam memek sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang k0ntol.
“Nikmaaat tenaaaan, Nduk… begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yg lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng… jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!” dengus Abdul sambil dgn yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yg semakin dalam.

Sesekali disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal. Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Yunita yg sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk – diulek dan digesek dgn penuh kemesraan. Sementara Ali tetap memegangi kedua nadi Yunita sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Yunita yg tetap mengeras bagaikan batu kerikil.
Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Yunita yg telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Yunita semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yg mengkilat basah setengah terbuka.
“Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa,” tak sadar lagi Yunita mengeluarkan suara khas wanita yg sedang dilanda kenikmatan birahi.

Abdul dan Ali yg rupanya telah beberapa kali mengerjai wanita secara bersama, kembali saling berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Yunita telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Yunita dari gadis alim menjadi wanita dewasa yg bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebaliknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.
Merasakan bahwa Yunita telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : Ali kini setengah terlentang dgn k0ntol telah berdiri mengacung ke udara, Yunita diangkat oleh Abdul dan diatur berlutut sambil menungging untuk “memanjakan” k0ntol Ali, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembali mendorong dan memasukkan k0ntolnya ke memek Yunita.

Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat k0ntol ayah tirinya mulai masuk sehingga Yunita tak sadar memekik dan melepaskan k0ntol Ali yg sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Abdul. Namun Abdul telah memegangi pinggang Yunita yg ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping – sementara Ali jg dgn mantab menjambak jilbab putih dan menekan kembali kepala Yunita untuk melakukan “service” ke rudalnya yg berukuran tak kalah dgn milik ayah tirinya.

Ketika Abdul semakin dalam mendorong k0ntolnya maka Yunita kembali merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yg beberapa menit lalu sobek kembali terbuka lukanya. Yunita berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dgn kuku-kuku kedua tangannya, namun Abdul sudah siap dan terbiasa dgn reaksi perlawanan wanita dalam posisi seperti ini. Kedua tangan Yunita yg menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Yunita tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan Ali yg sedang disepong untuk menjambak jilbab dan rambut Yunita, lalu dgn ritmis diturun-naikkan dgn irama yg sangat memuaskan “otong”nya. Dgn satu tangan Abdul tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Yunita tak dapat mencakar, sementara tangannya yg lain meremas-remas buah dada Yunita yg menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

Nafsu Pertama Ibu Ku



Nafsu Pertama Ibu Ku – Aku dikhitan ketika aku menginjak umur 13 tahun dan lanjut ke SLTP. Setelah rasa perih akibat dikhitan aku mendapatkan imbalannya, yakni penisku semakin gagah dan membesar. Aku melanjutkan sekolah ke kota yg jauhnya kira-kira 12 km dari rumahku. Pergaulanku semakin luas dgn bermacam-macam teman dari daerah maupun di sekitar kota itu.

Aku mulai mendapati hal-hal yg baru. Rata-rata teman sebayaku adalah anak-anak yg baru menginjak dewasa. Aku bergaul dgn anak-anak yg di kalangan sekolah dikenal sebagai kumpulan anak bandel.-cerita sex terbaru- Obrolan mereka sering sekali berbau mesum dan aku semakin senang sekali dgn mereka karena ketika SD aku tdk pernah sedikitpun berbicara tentang hal-hal demikian dgn teman-temanku. Saat itu aku jg sudah mulai mengenal onani untuk memuaskan nafsuku kalau terpaksa tdk ada pelampiasan. Saat itu cairan spermaku jg mulai banyak dan semakin nikmat dan menggelora gairah seksku.

Mereka sering mengobrolkan anak-anak perempuan sebaya maupun kakak kelas yg cantik dan badan mereka sudah mulai tumbuh dewasa. Mereka sering jg mengintip siswa-siswa perempuan tersebut sehabis olahraga di ruang ganti maupun di toilet. Aku tdklah begitu tertarik dgn bahan obrolan mereka tersebut. Namun ketika mereka mulai mengobrolkan guru-guru kami yg cantik dan bahenol aku mulai tertarik. Kadang kami selalu membayangkan hal-hal jorok tentang guru perempuan kami. Aku selalu membahas bu Wati guru PPKN kami. Bu wati badannya tinggi seksi dan berpantat semok kesukaanku. Aku selalu mengintip celana dalamnya dari bawah meja sewaktu ia mengajar.

Pada waktu itu sudah beberapa bulan aku belajar di sekolah yg baru. Aku sudah mulai berani membolos sekolah. Ketika itu setelah istirahat aku dan teman-temanku berencana membolos pelajaran dan segera mengambil tas dan buku kami di kelas untuk selanjutnya bergegas melompat keluar pagar sekolah.-cerita mesum terbaru- Kami berniat demikian karena seorang teman kami yg bernama Dendi tinggal tdk jauh dari sekolahan mengajak kami menonton film porno di rumahnya.

Aku yg sama sekali belum pernah menonton orang berhubungan badan, langsung saja tertarik dan ikut ke rumahnya. Kami sengaja membolos karena pada saat jam-jam pelajaran rumah Dendi sepi karena kedua orangtuanya PNS dan pulang kerjanya sama dgn kami yakni jam setengah dua siang. Beruntung Dendi anak tunggal, jadi tdk ada yg akan mengusik kami menonton sampai jam 2.
Jam 9 pagi kami keluar membolos dan kemudian di rumah Dendi kami langsung saja menonton film xxx itu. Aku sangat terperangah melihat adegan-adegan seks di film itu. Aku suka sekali karena yg main adalah bule-bule yg berbadan bongsor. penis di dalam celanaku tdk pernah kendur, tegak menantang sejak dari pas pertama film diputar.

Sambil menonton dan berimajinasi mereka mengobrolkan hal mesum tentang cewek-cewek di sekolah. Berbeda dgn mereka, dalam otakku hanya terbayang pikiran untuk segera bersetubuh dgn ibuku. Aku sudah tdk tahan lagi mengeluarkan sperma yg tertahan ini. Aku ijin Dendi untuk ke kamar mandi. Kamar menuju ke kamar mandi yg ada di belakang rumah dan saat melewati ruang tamu aku melihat ada foto ibu dan bapak Dendi.

Ibunya ternyata cantik dan terawat, bersih dan berseragam PNS rapi. Sepintas ibunya mirip dgn artis Lidya Kandou dgn perawakan yg hampir sama jg tinggi dan posturnya. Wah kalau ibuku di rumah tdk pernah dandan seperti itu, hanya biasa saja namun aku jg tdk tahu kenapa aku selalu bernafsu dgn dirinya. Aku mulai berpikiran jorok tentang ibu Dendi dan tdk sabar ingin melihatnya langsung. Niat aku ke kamar mandi bukanlah untuk kencing tetapi untuk beronani.

Sesampai di kamar mandi aku mendapati ada banyak tumpukan cucian kotor. Aku langsung berpikiran kotor mencari-cari kali aja ada celana dalam kotor ibu Dendi. Setelah kucari-cari ternyata ada 2 celana dalam putih bunga-bunga milik ibu Dendi dan aku sangat gembira sekali. Aku ciumi bau celana dalam itu, ada sedikit bau-bau pesing yg semakin membuat aku bernafsu. Aku bayangkan wajah ibu Dendi yg baru saja aku lihat di foto sambil mengocok penisku dan berfantasi menyetubuhi ibu cantik itu.

Tdk berapa lama cairan spermaku sudah diujung dan segera kutempelka celana dalam itu ke ujung penisku sambil membayangkan spermaku kumuncratkan di memek ibunya Dendi. Tak berapa lama spermaku keluar jg banjir membasahi celana dalam itu. Aku sangat puas sekali dan segera keluar toilet sambil menyelipkan celana dalam yg sudah basah itu jauh ke tengah tumpukan cucian agar tdk ketahuan.

Setelah selesai menonton aku segera pulang ke rumah. Di rumah bayanganku tentang wanita di film itu dan bayangan ingin segera bertemu dgn ibu Dendi berkecamuk di pikiranku. Semakin aku bayangkan semakin aku bernafsu lagi dan ujung-ujungnya pikiran untuk segera menyetubuhi ibuku seperti di film porno tadi semakin menjadi. Lagian rumah jg semakin sepi karena saat itu aku hanya tinggal bersama dgn ibu saja. Kakakku sudah bekerja merantau ke kalimantan selepas lulus dari SMA.

Ayahku jg sering mendapat pekerjaan berbulan-bulan di lain kota sehingga dia jarang sekali pulang ke rumah. Pikiranku berkecamuk sekali memikirkan cara apa yg harus kugunakan agar bisa bersetubuh dgn ibuku. Terkadang sering terbesit pikiran untuk memukul ibuku dari belakang dan setelah membuatnya pingsan aku bisa menyetubuhinya.

Namun dari dalam hati aku jg merasa khawatir karena takut salah pukul dan membuat ibuku mengalami hal terburuk dan fatal. Hal yg menyulitkanku lagi ketika itu setelah dikhitan aku dibuatkan kamar sendiri dan tdk lagi tidur bersama dgn ibuku. Aku jg takut untuk menyusul ibuku ke kamar walaupun demi untuk bisa memuaskan nafsuku dgn pantatnya seperti ketika aku masih SD.
Aku tdk mau dan malu untuk curhat tentang hal ini dgn teman-temanku karena aku akan melakukannya dgn ibuku sendiri. Saat aku bertanya dgn temanku tentang bagaimana cara untuk menyetubuhi orang dan tdk ketahuan, temanku memberi ide dgn memberikan obat tidur. Aku sempat gembira sekali mendengar itu namun hal itu hanya sia-sia belaka karena tdklah mudah untuk mendapatkan obat tidur apalagi bagi kami yg masih seumuran belum dewasa.

Aku selalu pulang dgn kecewa namun aku jg masih sering-sering mengintip ibuku mandi dan kemudian beronani dgn celana dalamnya. Aku melakukan itu selama bertahun-tahun dan berusaha melupakan niatku yg telah terpendam bertahun-tahun itu. Aku jg sudah sempat bertemu dgn ibu Dendi yg memberikan fantasi baru terhadapku. Aku mulai sering ijin untuk tinggal di rumah Dendi dan mencari-cari kesempatan untuk bisa mengintip bagian tubuh ibu Dendi.

Pikiran untuk menyetubuhi ibu Dendipun muncul persis seperti pikiranku terhadap ibuku. Namun hal tersebut semakin membuatku tambah kecewa saja karena hal tersebut lebih mustahil.

Sewaktu aku berada di rumah aku mendengar berita kalau tetangga kami keracunan memakan tumbuhan yg namanya aku rahasiakan. Tetanggaku itu kemudian dibawa ke rumah sakit dan setelah beberapa hari aku dan ibuku menjenguknya di rumah sakit. Ternyata dia hanya tdk sadarkan diri untuk beberapa jam saja dan katanya itu terjadi setelah memakan tumbuhan itu. Sepintas langsung terbersit pikiran kotor diotakku. Aku ingin sekali mencari tumbuhan itu dan mencampurnya ke dalam makanan ibuku. Pikirku itu tdklah terlalu berbahaya jika hanya sedikit saja. Kebetulan setelah sempat beberapa bulan ayahku berada di rumah, saat itu ayahku telah pergi lagi ke lain kota dan jarang pulang karena ada proyek besar di semarang.

Esok harinya setelah pulang sekolah aku langsung pergi ke daerah perladangan untuk memburu tumbuhan itu. Tdk sia-sia, setelah beberapa saat akhirnya aku menemukannya dan bergegas pulang. Ketika itu ibu sudah menginjak petang dan ibuku memasak sayur sop dan itu kebetulan sekali karena nantinya aku bisa mencampur tumbuhan itu ke sayur. Aku segera ke belakang dan menumbuk tanaman itu untuk kuambil sarinya.

Saat kami makan berdua di depan televisi aku pura-pura meminta ibuku membuatkanku sambal soalnya sayur sop kurang lengkap tanpa sambal. Setelah sedikit merengek akhirnya ibuku menaruh piringnya yg baru sedikit dimakan di meja depan televisi dan menuju ke dapur membuatkanku sambal. Aku langsung saja mencampurkan sedikit saripati tumbuhan itu ke dalam piring nasi dan sup ibuku. Setelah beberapa menit ibu kembali dgn sambal dan kami melanjutkan makan. Ibuku tdk merasa aneh dgn rasanya, mungkin saripati tumbuhan itu tdk ada rasanya karena aku jg belum pernah merasakannya, atau mungkin sudah tdk berasa karena sudah bercampur dgn nasi dan lauknya.
Tak berapa lama kemudian ibuku berkata kalau ia merasa pusing. Ia segera menuju ke tempat tidur dan setelah aku tunggu beberapa menit ternyata tdk ada suara apapun. Aku pura-pura memanggil ibu namun tdk ada jawaban. Aku berjingkrak kegirangan karena itu tandanya ibuku sudah tdk sadarkan diri. Aku menghampiri ibuku dan berpura-pura memanggil ibuku sambil menyentuh pipinya.

Ternyata ia benar-benar sudah tdk sadarkan diri dan langsung saja aku membuka semua pakaianku dan bertelanjang bulat. Aku matikan seluruh lampu rumah dan hanya menghidupkan lampu meja di sebelah ranjang. Hatiku berdebar keras kegirangan sambil melucuti pakaian yg dikenakan ibuku. Setiap momen melucuti pakaian itu aku nikmati dgn benar-benar, ada perasaan nikmat khusus yg aku dapatkan.
Mula-mula aku cium bibirnya sambil kulepas kancing bajunya beserta kutangnya. Kulihat payudaranya yg besar yg selama ini luput dari perhatianku dan ternyata tdk kalah menariknya dgn pantat yg selama ini memabukkanku.

Setelah itu aku pelorotkan rok longgarnya dan untuk pertama kalinya aku pelorotkan dgn penuh nafsu celana dalamnya. Aku ciumi seluruh badan ibuku dari ujung kaki sampai kepala. Aku lebarkan sedikit pahanya dan kulihat memek dgn rambut yg baru dicukur itu depat di depan mataku. Aku jilati puki ibuku tempat aku lahir dahulu. Ibuku sedikit bergerak dan itu membuatku kaget namun tdk berlanjut lagi, dan itu mungkin dia jg merasa keenakan.

Aku tak sabar lagi ingin menancapkan penisku ini ke pukinya. Dgn pelan-pelan aku masukkan penisku yg mengacung itu dan agak sedikit susah karena mungkin jarang dipakai lagi dgn ayahku. Aku seperti melayg ke surga setelah bisa masuk ke dalam lubang vaginganya.
Semua rasa yg belum pernah kurasakan bercampur menjadi satu. Hangat dan lembut memeknya semakin membuatku ingin memompanya kencang. Ibuku dgn posisinya yg terlentang hanya terdiam tanpa ekspresi ketika kutindih dari atas, dan semakin kucepatkan gerakan penisku menjebol pukinya. Penisku sudah terasa pengin memuncratkan spermanya, dan langsung kucabut saja karena aku ingin menghajar ibuku dgn menindihnya dgn posisi telungkup.

Aku langsung berpindah posisinya dan sedikit mendorong tubuh ibuku agar bisa ke posisi telungkup. Badanku sudah setinggi ibuku meskipun badan ibuku lebih besar. Aku agak sedikit merasa berat mendorongnya, dan ketika sudah berhasil telungkup aku melihat bokong bulat kenyal indah itu persis di depan mataku. Aku semakin bernafsu dan segera menciumi dan menjilati pantat pujaanku sedari kecil itu.
Setelah puas mencium dan menjilatinya aku sibak belahan pantatnya yg besar dan ingin sekali melihat lubang anusnya. Gundukan pantat dan anus beserta memeknnya tampak semua.Aku bagaikan terbang melayg dan segera kuarahkan lagi penisku ke arah pukinya. Aku bergerak naik dan turun dan ketika itu aku mendapatkan sensasi luar biasa dari benturan pantatnya yg kupepet.
Gerakanku yg berbenturan dgn pantat besar itu membuat bunyi seperti tepukan dan membuatku sudah tak bisa lagi membendung spermaku. Aku tdk kuat lagi dan kusemburkan seluruh spermaku di dalam lubang memeknya. Aku merasa sangat puas sekali dan mengerang keenakan tdk peduli jika nantinya ada orang yg mendengar. Aku tdk takut ibu hamil karena didepan rumah kami sudah terpasang simbol KB jadi ibuku pasti sudah KB.

Setelah rasa puas itu aku merasakan perasaan yg aneh dan merasa bersalah. Aku segera membersihkan cairan sperma yg menempel di memek ibu dgn selimut dan segera memakaikan kembali pakaiannya. Aku berbaring dan sedikit menyesal dgn perbuatanku. Aku jg takut kalau ibuku terjadi apa-apa akibat ramuan itu.

Setelah aku tunggu sampai jam sepuluh malam ibuku ternyata sudah sedikit mengigau. Mungkin dia sudah sadar dan ketika aku pegang dirinya dan kutanya ia jg menjawab. Aku merasa tenang dan setelah merasa bersalah semalamaan dan setelah pagi menjelang pikiranku berubah lagi karena melihat pemandangan ibuku yg tdk seperti biasanya, memakai legging tipis sehingga setiap lekukan pantat kaki dan pahanya terlihat jelas.

Ibuku memberitahu kalau tadi malam ia merasa pusing dan tiba-tiba saja tertidur lelap sampai pagi. Aku hanya senyum saja dan memberitahu kalau mungkin hanya kecapaian saja. Setelah aku sudah selesai bersiap-siap berangkat sekolah, aku sarapan dgn ibuku. Aku mencampurkan lagi ramuanku itu ke dalam makanannya ketika ia menoleh mengambil kerupuk yg kuminta di belakang badannya.
Tak berapa lama ia merebah di ranjang yg berada di depan televisi. Aku mengurungkan niatku pergi sekolah dan ingin segera menyetubuhi ibuku lagi. Aku segera menutup pintu serta jendela dan setelah memastikan diri ibuku telah tak sadarkan diri, aku langsung menarik dirinya namun tdk menelanjangi total dirinya. Aku tdk melepas semua pakaiannya karena aku terangsang dgn legging ketat ibuku dan ingin dia masih dibalut dgn separuh leggingnya.

Aku tengkurapkan tubuhnya dan menarik kakinya keluar ranjang sedangkan bagian atas badannya masih di ranjang. Untung sekali ranjangnya tdk terlalu tinggi jadi dia bisa benar-benar nungging. Setelah itu aku pelorotkan legging ketatnya sampai separuh paha dan ternyata ia tdk memakai celana dalam. Aku ciumi dan jilati seluruh pantat anus dan memeknya dari belakang. Gilat sekali, baunya pesing dan aroma kecing bercampur

Ibuku belum sempat mandi dan hanya cebok, padahal semalam ada bekas-bekas kering spermaku namun ia tdk sadar jg. Namun aroma itu malah membuatku semakin bernafsu dan segera kuturunkan celanaku terus langsung kuhujumkan penisku ke dalam memeknya. Seperti anak kanjing mengawini ibu anjingnya. Aku terus mengebor dgn cepat dan kuremas pantatnya yg membuatku seketika memuncratkan lagi seluruh spermaku ke dalam pukinya. Aku sekali lagi merasakan bersalah namun aku tau kalau itu hanya sementara.
Setelah beberapa saat aku naiikan lagi badan ibuku dan aku entotin dirinya dgn posisi 69 sampai akhirnya lubang memek ibuku dipenuhi cairan spermaku. Aku segera mengakhiri permainanku dan membersihkan semua sperma yg ada di memek ibu. Jariku aku masukkan ke dalam memeknya untuk mengeluarkan sperma yg banyak menyelip di dalam. Setelah bersih aku naikkan lagi leggingnya dan menyelimutinya.

Setelah ia bangun di siang hari ia kembali bertanya kenapa ia merasa pusing dan tertidur pulas lagi aku hanya menjawab mungkin kurang darah. Ibuku saking polosnya hanya percaya saja dan memberiku duit untuk membelikannya obat penambah darah. Dalam hatiku hanya senyum saja dan segera keluar membelikannya. Aku melakukan hal itu tdklah sering karena takut akan membawa efek negatif. Aku melakukannya mungkin sekitar enam kali dan setelahnya aku sering pergi ke tempat prostitusi dan mencari wanita yg sudah keibuan. Pikiranku menyetubuhi ibuku sudah tdk terlalu menggangguku karena aku jg sudah puas pernah berhasil menyetubuhinya berkali-kali.
Setelah aku masuk SMA aku minta dipindahkan ke kota lain karena takut kalau timbul lagi niatku menyetubuhi ibuku dan hanya dgn jalan memberi ramuan itu yg pasti akan membawa efek negatif ke tubuhnya. Aku membujuk orang tuaku dgn alasan biar aku mandiri dan akan berusaha mencari sambilan kerja agar tdk terlalu membebani mereka.

Aku ingin sekali melakukan hubungan seks dgn ibuku namun dalam kondisi dirinya yg sadar, jadi aku bisa merasakan ekspresi wajahnya ketika sedang bercinta. Namun hal tersebut terasa mustahil di otakku dan lebih baik aku menjauh saja.
Setelah sekolah di perantauan aku memasarkan diriku ke tante girang. Aku mendapatkan kepuasan seks dgn petualanganku yg baru dan tentu saja dgn tante-tante yg berganti-ganti di mana setiap aku bercinta dgn mereka, aku selalu membayangkan mereka ibu kandungku. Pekerjaan itu aku lakukan sampai sekarang dan sangat aku nikmati. Aku sudah tdk lagi ingin memberikan ramuan itu ke ibuku semenjak pindah sekolah. Sekarang aku sudah menemukan tante-tante baru yg mengubah hidupku.

Puncak Birahi Yang Tak Tertahankan

Puncak Birahi Yang Tak Tertahankan – Namaku Novem (bukan nama yg sebenarnya), pangilan akrabku kuanggap bagus dan selalu membawa kehokian yg baik dan ditunjang dgn postur tubuhku yg sangat atletis, tinggi 167 cm dgn berat badan 58 kg sangatlah membantuku dalam segala kegiatan. Keramahan serta rendah hati adalah senjataku karena aku berprinsip banyak teman banyak rejeki dan tdk kelewatan pula pasti banyak wanita yg tergoda.

Dgn formasi yg begitu, tentu anda tahu seleraku. Aku sangat menyukai wanita yg berumur sekitar 30 hingga 37 tahun dimana mereka umumnya sangatlah cantik, dewasa dan terlihat sangat anggun. Entah mengapa Tuhan memberi anugerah kecantikan wanita yg sempurna bila mereka berumur sekitar yg kusebutkan di atas. Aku bekerja di perusahaan P**** (edited) yg sangat syarat berhubungan langsung dgn pelayanan masyarakat dgn posisi yg lumayan srategis.



Diawali dgn perkenalanku dgn seorang pramuniaga yg sangat cantik, umurnya sekitar 33 tahun dan mempunyai anak satu. Rindi namanya, sangat mudah diingat dan sangat enak terdengar di telinga. Perkenalanku berawal ketika aku sedang berlibur ke Kalimanatan (Banjarmasin).
Perkenalan itu sangat indah dan romantis, disaat matahari tenggelam tertelan air laut di atas dek ferry kulihat seorang wanita bersandar di tiang besi dgn rambut yg tergerai melambai-lambai tertiup sepoi-sepoi angin laut, sungguh cantik dan sexy lekuk tubuh dan dadanya membusung ke depan, sweter unggu serta span warna hitam tak dapat menyembunyikan keindahan tubuhnya.

Dgn langkah yg pasti kuhampiri dgn sedikit sapaan dan percakapan yg sopan mulailah ia terbawa oleh obrolanku yg sedikit humor dan kadang menimbulkan gelak tawa yg memunculkan lesung pipinya, ya ampun cantik betul mahluk ini.
Setelah puas dgn ngobrol ini itu dan matahari pun malu menampakkan wajahnya ternyata sdh pukul 19:00 WIB, tak terasa sdh perkenalan yg begitu lama di atas dek dan kami memutuskan untuk kembali ke bangku masing-masing. Kami berjanji akan bertemu kembali jam 21:30 di tiang besi saksi perkenalan kami.

Setelah mandi dan merapikan diri, tak sadar handphone-ku berdering, alarm yg sengaja kupasang telah memanggilku untuk segera naik ke dek karena sdh waktunya kujemput bidadariku di atas dek. “Hai Novem..” sapa merdu Rindi menyapaku dgn menepuk punggungku saat aku memandang lautan.

“Hai, Rin..” sedikit taktik, kubelai rambutnya.
“Maaf Rin..” kataku mesra.
“Ada apa Novem..” balasnya manja.
“Nih benang bikin rusak pemandangan,” jawabku, padahal benang itu sejak tadi ada di tanganku.
“Oh kamu ini bisa aja Novem..” bisiknya manja.

Rindi sdh bercerai 3 tahun yg lalu dikarenakan suaminya suka berjudi dan mabuk-mabukan yg membuatnya banyak dililit hutang dan kehidupan rumah tangganya selalu tak terhindar akan keributan.
“Kenapa kamu tak cari suami lagi, Rin..” tanyaku untuk memecahkan keheningan.
“Ah.. nantilah,” jawabnya, “Aku masih suka sendiri dan masih kunikmati peran gandaku sebagai ibu dan ayahnya Ranny (anaknya, red) toh masih cukup gajiku untuk membiayainya.”

“Hebat kamu Rin, bagitu tegar dalam keadaan begitu. Kurang apa coba.. kamu mandiri, cantik, sexy dan masih muda lagi, akupun mau mendaftar kalo masih ada lowongan.. ahahaha..” aku sengaja tertawa untuk meriuhkan suasana karena kulihat dia diam dgn wajah agak memerah.
“Hahahhaa..” ternyata dia tertawa,

“Ah kamu ini pantesnya jadi adikku,” jawabnya melecehkan.
“Hahahaha.. aku malah,” terbahak-bahak karenanya, “Lho meskipun adik tp bisa buat adik si Ranny lho.”
“Mana mungkin,” jawabnya.
“Lha kok nggak percaya.. jangan ketagihan ya nanti,” jawabku.
“Yee.. siapa yg mau,” godanya manja.
“Aku yg mau,” jawabku.

Kamipun tertawa riang.
“Dasar buaya,” jawabnya.
Tanpa sadar kapal bergoyang dan angin semakin kencang dan Rindi sdh ada di pelukanku, karena terombang-ambing kapal kudekap tubuh sintalnya dan tak luput kupengang buah dadanya yg besar, ternyata diapun diam saja. Kutahan goyangan kapal dan tak kulewatkan kesempatan itu dgn sedikit fantasiku goyangkan pantatku dan..,
“Ah.. nakalnya kamu..” ternyata diapun menyadari makin nekadnya aku mengambil kesempatan dalam kesempitan sambil mencubit pinggangku,

“Menggoda ya..” bisiknya.
“Ah masa, tp suka kan,” jawabku.
“Hahahaa..” gelak tawapun tak terhindarkan lagi.
“Rin turun yuk, bahaya nich.. kayaknya angin semakin kencang dan goyangan kapal semakin garang kalo aku yg goyang kamu sich nggak masalah, lha ini kapal yg goyang.. hehehe..” ajakku mesra.
“Dasaar.. dasaar, bener-bener buaya kamu Novem,” balasnya manja.
“Upsssss.. bukan buaya tp biawak.. hahahha..” balasku.

Kamipun menuju anak tangga, satu persatu anak tangga kami lalui dgn tangan yg melingkari perutnya dan diapun melingkarkan tangannya di pinggangku. Dgn berani kucium telinganya, dia diam saja hanya reaksi tangannya saja yg menggenggam perutku dan kamipun sdh sampai di depan pintu yg bertuliskan staff only lalu kutarik pinggangnya untuk masuk, diapun tdk menolak. Dgn luas ruangan 2 X 4 m2 sangatlah luas bagi kami berdua. Dalam keremangan lampu kulumat bibir tipisnya, nafas kamipun semakin menderu. Ternyata dia pengalaman sekali dalam french kiss.

Kami berciuman 5 menit lamanya dan dia mulai membuka sweternya sedang aku membuka jaket kulitku dan kami jadikan alas hingga tiada benang sehelaipun yg melekat di tubuh kami berdua. Sungguh indah tubuhnya, dgn ukuran payudara 36B dan belum turun kuanggap sangatlah sempurna. Dalam keadaan berdiri, kulumat bibirnya dan mulailah turun ke tengguk hingga payudaranya dgn puting yg merah muda,

“Seperti masih ABG saja,” pikirku.
Kulumat yg kanan dan kupiin-pilin yg kiri membuat suaranya,
“Hmm.. ach.. hmm.. sppt.. Novem teruskan Novem.. aacch, enak Novem..” Kepalaku pun ditekannya ke dadanya, tak kupedulikan dia, kuhisap, kugigit-gigit kecil putingnya hingga ia makin menjambak rambutku. Dgn jenggot yg baru kucukur 2 hari yg lalu kugesek-gesekan daguku di gunung kembarnya.

“Oooh Novem.. please masukin dong.. sstt..” Tak kupedulikan ocehannya hingga kulumat perutnya, pusarnya dan akhirnya sampailah di gundukan surga dunia, sungguh indah.
Mataku terbelalak ternyata tdk ada sehelai rambutpun di sekelilingnya, harum dan wangi yg khas. Wajahnya yg cantik tersenyum manis padaku, kuturunkan wajahku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yg paling kusukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu.

“Ohh.. apa yg akan kau lakukan.. akh..” desahnya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yg dirasakannya.
Beberapa saat kemudian tangannya malah mendorong kepalaku semakin bawah dan,
“Nyam-nyam..” Nikmat sekali kemaluan Rindi.

Oh, bukit kecil yg berwarna merah merangsang birahiku. Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan,
“Cleeekk..” ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah kemaluan yg sdh sejak tadi becek.
“Aaahh.. kamu nakaal,” jeritnya cukup keras.

Terus terang kemaluannya adalah terindah yg pernah kucicipi, bibir kemaluannya yg merah merekah dgn bentuknya yg gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Secara bergantian, kutarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dgn mulutku.
“Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Novem..” lirih Rindi.

“Novem, udah dong Novem masukin aja.. Novem oohh.. aku udah nggak tahan nich, please setubuhi aku..” pinta Rindi lirih.
Tanpa banyak mulut kumasukkan batang kemaluanku yg panjang dan tegak itu, dia tersentak,
“Ach pelan dong Say.. sstt..” Kugenjot dgn penuh perasaan, sementara tanganku tdk tinggal diam, kupilin-pilin puting susunya yg mungil.
Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Rindi terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yg akan segera diraihnya.

“Novemmm.. aahh.. aku nggaak.. nggak kuaat aahh.. aahh.. oohh..” desahnya tertahan.
“Tahan Rin.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya.. tahan dulu.. jangan keluarin dulu..” Tp sia-sia saja, tubuh Rindi menegang kaku, tangannya mencengkram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya.

Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, mungkin karena lamanya ku-oral kemaluannya yg enak itu.
“mmmppphhhh.. ooohhhhh.. aahh.. Novem sayang.. Novem.. ooh enaak.. aku kelauaar.. oohh.. oohh..” teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu.

Aku merasakan jepitan kemaluannya di sekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkram erat sekali, sementara itu batang kemaluanku masih tegak berdiri sedangkan dia sdh 4 atau 5 kali orgasme.
“Novem, ayo dong Say aku udah nggak tahan nich.. Novem keluarin dong.. aku hisap aja ya, biar cepat keluar..” Tanpa kusuruh dia sdh melumat dan menyedot kemaluanku.

“Astaga..” kurasakan tekanan dari dalam batangku sepertinya akan keluar.
“Rin.. Rin.. stop Rin.. aku mau keluar nich..” desahku tertahan.
“Ya udah Novem, masukin aja ke mekiku.. aku jg ingin merasakan pejumu membajiri mekiku.. aku kangen, udah lama nggak ada yg membanjiri mekiku dgn peju..” balas Rindi dgn nada manja dan sedikit genit.
“Aach.. Rin, aku mau keluar nich Rin.. ach.. achh..” aku lemas lunglai tak berdaya di atas tubuh Rindi yg sexy itu.
“Makasih ya Novem..” Kamipun tertidur dan aku terkejut ketika terbangun sdh pukul 04:00, untung saja tdk ada yg memergoki perbuatan kami.

Setelah merapikan diri, kamipun kembali di kursi masing-masing dan kami berjanji akan bertemu kembali di kota, kebetulan kami satu kota. Sampai saat ini kamipun masih sering berhubungan dgn komitmen kebebasan yg menghargai serta menjunjung seks yg sehat..

Senin, 17 Oktober 2016

6 Tahap Pemanasan Sebelum Bercinta



Para ahli menyimpulkan, supaya puas bercinta sampai klimaks dan orgasme, wanita butuh waktu 15 menit untuk pemanasan atau foreplay sebelum hubungan seksual yang sesungguhnya dilakukan.
Tapi gerakan apa saja yang dapat kita lakukan supaya waktu sepanjang 15 menit itu tidak terasa membosankan dan melelahkan karena cadangan variasi gerak yang kita ketahui cuma itu-itu saja? Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, lewat sebuah situs internet, Susan Crain Bakos, penulis buku Sexational Secrets, dan Michael Perry, Ph.D, seorang ahli terapi seks di California, AS, memberi panduan pemanasan bagi pria seperti berikut ini:



 Awali dari tangan


1. Awalilah dari Tangan Pasangan Anda:

- Remaslah dengan lembut jari-jari tangan pasangan Anda lalu ciumlah bagian belakang jari-jemari itu. Menurut para ahli penata kuku (manicurist), bagian jari-jari adalah kawasan peka rangsangan pada wanita yang paling sering terabaikan.

- Kemudian, kecuplah dengan lembut pergelangan tangan pasangan Anda. Tempelkan bibir Anda di bagian yang terletak tepat di bawah telapak tangan ini. Lakukan sampai Anda sanggup merasakan detak nadinya. (Waktu yang diperlukan: 1 menit)


Kecupan ringan


2. Lanjutkan dengan Kecupan-kecupan Ringan

- Mulailah dari bibir bawahnya. Dengan lembut, selipkan bibir bagian bawah pasangan Anda itu di antara bibir Anda, lalu seruputlah pelan-pelan.

- Kemudian, tetap dengan irama lembut dan pelan, arahkan bibir Anda ke bibir bagian atas pasangan Anda, lalu ke lekukan antara leher dan dagu, ke telinga, dan ke kelopak mata. Sampai di sini, upayakan bibir Anda masih tetap tertutup, mata terbuka, dan lidah tetap di dalam mulut.

- Seiring dengan kecupan-kecupan yang Anda lakukan, belai-belailah punggung dan lengan pasangan Anda menggunakan jari tangan. (Waktu yang diperlukan: 3 menit)


Ciuman gairah

3. Berikutnya, Ciuman Bergairah

- Keluhan umum dalam ciuman: terlalu bernafsu menjulurkan lidah. Jadi, untuk menjangkau mulut pasangan Anda, jangan julurkan lidah lebih dari sepertiganya. Tapi, gunakan saja ujung lidah Anda untuk bermain-main bersama ujung lidah pasangan Anda, menyapu bibir bagian dalam pasangan Anda, serta ujung-ujung giginya. (Waktu yang diperlukan: 2 menit)


Ciumi seluruh bagian tubuh


4. Lalu, Ciumlah Seluruh Bagian Tubuhnya

Umumnya pria hanya secara asal-asalan menggerayangi seluruh tubuh wanita dan mulut, dada, perut dan seterusnya. Gaya seperti ini tidak membangkitkan rangsangan pasangan Anda karena ia tahu persis ke arah mana Anda akan menuju. Jadi, buatlah kejutan:

- Pusatkan pada bagian-bagian yang sering terlupakan: paha bagian dalam, bagian belakang lutut, belakang daun telinga, dan bagian atas payudara (bukan bagian putting). Melompatlah dari satu titik ke titik yang lain.

- Gunakan tekanan ujung lidah dan hisapan ringan pada setiap ciuman.

- Setelah mencium suatu bagian , dengan lembut tiuplah bagian itu. Pasangan Anda akan sedikit merinding. Tidak apa-apa, itu pertanda baik. (Waktu yang dibutuhkan: 4 menit)


Gunakan tangan

5. Mulai Gunakan Tangan

- Jangan kasar terhadap buah dadanya. Bila putingnya tidak menegang, jangan menjepit atau memelintirnya. Sebaliknya, gunakanlah telapak tangan Anda untuk meraba keseluruhan payudara dengan gerakan memutar. Awalilah dengan sedikit tekanan, lalu tingkatkan tekanan tersebut begitu pasangan Anda terlihat bergairah.

- Begitu putingnya menegang, selipkan di antara kedua jari Anda lalu maju-mundurkanlah kedua jari Anda tersebut. Jangan diremas. (Waktu yang diperlukan: 2 menit)


Mengarah ke sasaran

6. Mengarah Ke Sasaran

- Ketimbang langsung ke klitoris, sempatkan beberapa saat untuk membelai-belai bagian luar bibir vagina dengan jari Anda. Gerakan ini secara tak langsung akan memberi rangsangan pada klitoris. Lakukan belaian dengan halus.

- Perlahan-lahan renggangkan bagian luar vagina dan gunakan jari-jari Anda untuk membelai sisi klitoris dan bagian dalam bibir vagina. Jangan sentuh dulu klitoris secara langsung dan Anda akan segera tahu kapan klitoris itu siap disentuh. (Waktu yang diperlukan: 3 menit)

Akhirnya, periksalah tanda-tanda terangsang: puting tegak, nafas berat, klitoris tegang. Bila tanda-tanda seperti itu muncul, ciumlah pasangan Anda sepenuh hasrat, lalu selanjutnya pemanasan selesai.

Minggu, 16 Oktober 2016

Alisya Dan Calon Bapak Mertua

Alisya Dan Calon Bapak Mertua– Cerita Seks, Cerita Seks Terbaru, Cerita Seks Terbaik, Cerita Seks Terhangat, Cerita Seks Nyata, Alisya mematut diri di depan kaca cermin. Ini adalah hari yg paling di nantikannya, hari pernikahannya. Ada banyak alasan kenapa akhirnya dia bersedia menikah dgn Hendratmo. Dan seks adalah salah satunya, meskipun Hendratmo hanya mempunyai sebuah kemaluan yg kecil saja. Namun seks dgn lelaki lain menjadi jauh lebih menyenangkan meskipun sejak Hendratmo telah menyematkan sebuah liontin berlian di jarinya. Dia merasa bersalah dan membutuhkannya dalam waktu yg bersamaan, setiap kali dia merasakan liontin tersebut di jarinya saat lelaki lain sedang meyetubuhi kemaluannya yg dijanjikannya hanya untuk Hendratmo.



Dia ingat saat malam dimana Hendratmo melamarnya. Dia tersenyum, mengangguk dan berkata “ya”, menciumnya dan menikmati bagaimana nyamannya rasa memakai liontin berlian yg sangat mahal tersebut. Dan setelah makan malam bersama Hendratmo itu, dia langsung menghubungi Edwart, begitu mobil Hendratmo hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Alisya menunggu Edwart dgn tanpa mengenakan selembar pakaianpun untuk menutupi tubuhnya yg berbaring menunggu di atas tempat tidurnya, liontin berlian yg baru saja diberikan oleh Hendratmo adalah satu-satunya benda yg melekat di tubuh telanjangnya.

Ada desiran aneh terasa saat matanya menangkap kilauan liontin berlian itu waktu tangannya menggenggam kemaluan gemuk Edwart. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar saat tangannya mencakup kedua buah dadanya dgn air mani Edwart yg melumuri liontin itu. Dan klimaks yg diraihnya malam itu, yg tentu saja bersama lelaki lain selain tunangannya, sangat hebat – tangan yg tak dilingkari liontin menggosok klitorisnya dgn cepat sedangkan dia menjilati air mani Edwart yg berada di liontin berliannya. Dia menjadi ketagihan dgn hal ini dan berencana akan melakukannya lagi nanti pada waktu upacara perkawinannya nanti.

Saat ini, dia memandangi pantulan dirinya di dalam kaca cermin mengenakan gaun pengantinnya. Dia terlihat menawan, dan dia sadar akan hal itu. Alisya tersenyum. Dia membaygkan nanti pada upacara pernikahannya, teman-teman Hendratmo akan banyak yg hadir dan akan banyak lelaki lain yg akan dipilihnya salah satunya untuk memenuhu fantasi liarnya. Kemaluannya berdenyut, dan dia membaygkan apa yg akan dilakukannya untuk membuat hari ini lebih komplit dan sempurna, saat lonceng berbunyi nanti.

Saat dia membuka pintu, Bapak Hendratmo, Daniel, sedang berdiri di sana, bersiap untuk menjemputnya dan mengantarnya ke gereja. Alisya menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu lelaki di hadapannya ini sangat merangsangnya – beberapa bulan belakangan ini dia telah berusaha untuk menggodanya, dan dia pernah mendengar lelaki ini melakukan masturbasi di kamar mandi saat dia datang berkunjung ke rumah Hendratmo, menyebut namanya. Alisya belum pasti apakah mudah nantinya untuk menggoda Daniel agar akhirnya mau bersetubuh dgnnya, tapi sekarang dia akan mencari tahu tentang hal tersebut. Dia tersenyum lebar saat menangkap mata Daniel yg manatap tubuhnya yg dibalut gaun pengantin ketat untuk beberapa saat.

“Bapak” tegurnya, dan memberinya sebuah ciuman kecil di pipinya. Parfumnya yg menggoda menyelimuti penciuman Daniel.

“Bapak datang terlalu cepat, aku belum siap. Tapi Bapak dapat membantuku.” Digenggamnya tangan Daniel dan menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, tempat yg akan segera ditinggalkannya nanti setelah menikah dgn Hendratmo.

Daniel mengikutinya dgn dada yg berbar kencang. Ini adalah saat yg diimpikannya. Dia heran bagaimana anaknya yg pemalu dan bisa dikatakan kurang pergaulan itu dapat menikahi seorang wanita cantik dan menggoda seperti ini, tapi dia senang karena nantinya dia akan mempunyai lebih banyak waktu lagi untuk berdekatan dgn wanita ini.

“Apa yg bisa ku bantu?”

Alisya berhenti di ruang tengahnya yg nyaman lalu duduk di sebuah meja.

“Aku belum memasang kaitan stockingku… dan sekarang, dgn pakaian ini… aku kesulitan untuk memasangnya.”

Suaranya terdengar manis, tapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yg dibungkus dgn stocking putih dan sepatu bertumit tinggi langsung terpampang.

“Bisakah Bapak membantuku memasangnya?”

Daniel ragu-ragu untuk beberapa waktu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ini sebuah “undangan” untuk sesuatu yg lain lagi, ataukah hanya sebuah permintaan tolong yg biasa saja? Dia mengangguk.

“Oh, tentu…” dia berlutut di hadapan calon istri anaknya dan bergerak meraih kaitan stockingnya. Jemarinya sedikit gemetar saat Alisya dgn pelan mengangkat kakinya . Daniel berusaha untuk memasangkan kaitan stocking itu.

Alisya menggigit bibir bawahnya menggoda, dan lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yg dibalut stocking putih. Dia dapat merasakan sebuah perasaan yg tak asing mulai bergejolak dalam dadanya., sebuah tekanan nikmat yg membuat nafasnya semakin sesak, membuat nafasnya semakin memburu, dan membuatnya semakin melebarkan kakinya. Dia dapat merasakan cairannya mulai membasahi. Kaitan itu akhirnya terpasang di sekitar lututnya. Daniel menghentikan gerakannya, tak yakin apakah dia sudah memasangkan dgn benar.

“Bapak, seharusnya lebih ke atas lagi…” tangan calon Bapak mertuanya yg berada sedikit dibawah kemaluannya membuatnya menjadi berdenyut dgn liar.

Keragu-raguan itu hanya bertahan untuk beberapa saat saja. Tangan Daniel menarik kaitan itu semakin ke atas saat calon istri anaknya meneruskan mengangkat gaun pengantinnya semakin naik. Dia menelan ludah membasahi tenggorokannya yg terasa kering saat akhirnya kaitan itu terpasang pada tempatnya di bagian paling atas stockingnya. Dia yakin dapat mencium aroma dari kemaluan Alisya sekarang, yg membuat jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Tangannya berhenti, kaitan stocking itu melingari bagian atas paha Alisya… dan dia merasakan bagian gaun pengantin itu terjatuh saat Alisya melepaskan sebelah pegangannya untuk meraih bagian belakang kepEdwartya dan mengarahkan wajah Bapak calon suaminya mendekat ke kemaluannya, dan Daniel menemukan tak ada celana dalam yg terpasang di sana.

Alisya melenguh dan memejamkan matanya saat harapannya terkabul. Daniel tak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat tepat pada bibir kemaluannya, dan Alisya semakin basah dgn cairan gairahnya. Dgn sebelah tangan yg masih menahan gaun pengantinnya ke atas, dan yg satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke kemaluannya yg terbakar, dia mulai menggoygkannya perlahan. Ini serasa di surga, dan menyadari apa yg diperbuatnya tepat di hari pernikahannya membuat tubuhnya semakin menggelinjang. Dia mengerang saat lidah Daniel memasuki lubangnya, dan lidah itu mulai bergerak, menghisap bibir kemaluannya, menjilati klitorisnya, wajah Daniel belepotan dgn cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruang tengah rumah kontrakannya.

Semakin Alisya menggelinjang, semakin keras pula Daniel menghisapnya.

“Oh ya Bapak… jilat kemaluanku… buat aku klimaks sebelum aku mengucapkan janjiku pada putramu… kumohon…” perasaan salah akan apa yg mereka perbuat membuat Alisya dgn cepat meraih klimaksnya, dan hampir saja dia rubuh menimpa Daniel. Ini bukan seperti klimaks yg biasa diraihnya, ini seperti rangkaian ombak yg menggulung tubuhnya, merenggut setiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya.

Cairan Alisya terasa nikmat pada lidah Daniel, dia menjilat dan menghisap kemaluannya seperti seorang lelaki yg kehausan. Kemaluannya terasa sakit dalam celananya, cairan pre cum nya membasahi bagian depan tuxedonya.

Alisya kembali menggelinjang, lalu dgn pelan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutupi Bapak Hendratmo. Lalu dia membuka resleting di bagian belakang gaunnya dan membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Dia melangkah keluar dari tumpukan gaun pengantinnya yg tergeletak di atas lantai, hanya mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, dan tentu saja stocking beserta kaitannya yg baru saja dipasangkan Daniel pada pahanya. Alisya tersenyum padanya, kemaluannya berkilat dgn cairannya.

“Aku akan ke kamar mandi untuk membetulkan make-up, kalau Bapak memerlukan sesuatu…” dia berkata dgn mengedipkan matanya. Daniel menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu, begitu feminim dan menggoda. Hanya beberapa detik kemudian dia menyusulnya.

Saat dia memasuki kamar mandi dan berdiri di depan sebuah kaca cermin di atas washtafel, dan sudah mengenakan sebuah celana dalam berwana putih. Daniel tahu kalau ini adalah salah satu godaannya yg manis, dan dia telah siap untuk bermain bersamanya.

Alisya melihatnya masuk, dan dgn sebuah gerakan yg cantik membuka lebar pahanya. Daniel melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing baygannya dalam kaca cermin. Tangan Daniel bergerak ke bagian depan tubuhnya, menggenggam buah dadanya yg masih ditutupi bra. Alisya tersenyum.

“Tapi Bapak, bukankah ini tak layak dilakukan oleh seorang Bapak calon pengantin pria?”

Daniel memandangi bagaimana bibir Alisya yg membuka saat bicara, mendengarkan hembusan hangat nafasnya, seiring dgn tangannya yg meremasi buah dadanya dalam balutan bra.

“Tak se layak apa yg akan kulakukan padamu.”

Alisya menggigit bibirnya dan mendorong pantatnya menekan kemaluannya yg mengeras.

“Aku nggak sabar,” bisiknya.

Sejenak kemudian Alisya merasakan tangan calon Bapak mertuanya berada di belakangnya saat dia melepaskan sabuk dan membiarkan celananya jatuh turun. Dgn mudah tangan Daniel menarik celana dalamnya ke samping. Alisya menarik nafas dalam-dalam saat dia merasakan daging kepala kemaluannya menekan bibir kemaluannya yg masih basah.. Dia mengerang dan memegangi tepian washtafel saat dgn perlahan Daniel mulai mendorongkan gagang kemaluan itu memasukinya. Alisya merasakan bibir kemaluannya menjadi terdorong ke dalam, merasakan dinding bagian dalamnya melebar untuk menerimanya.

“Apa ini terasa lebih baik dari kemaluan putaku?” Daniel tersenyum puas. Dia tahu se berapa ukuran kemaluan putranya, dan dia yakin kalau putranya mewarisinya dari garis ibunya. Kemaluan calon istri putranya terasa sangat menakjubkan pada gagang kemaluannya, dgn cepat dia sadar kalau dia layak untuk menyetubuhi calon menantunya lebih sering dibandingkan putranya. Dan dia mendapatkan firasat kalau dia bisa melakukannya kapanpun mereka memiliki kesempatan.

“Oh brengsek!!! Ya Bapak… ayo… beri aku yg terbaik untuk merayakan pernikahanku dgn putra kecilmu.” dia lebih membungkuk ke bawah, dan merasakan tangan Daniel pada pinggulnya. Dia mencengkeramnya dgn erat dan mulai memompanya keluar masuk. Mereka sadar akan terlambat menghadiri upacara pernikahan, tapi Daniel memastikan kemaluan sang mempelai wanita benar-benar berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yg lama. Alisya mengerang dan menjerit dan bergoyg pada gagang kemaluan itu, mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi baygan mereka berdua di dalam kaca cermin saat menyalurkan nafsu terlarang mereka.

Alisya merasa teramat sangat nakal, disetubuhi dgn layak dan keras oleh Bapak calon suaminya tepat sebelum upacara pernikahannya. Daniel merasakan kemaluannya mengencang pada gagang kemaluannya, dan kali ini, dia merasa seluruh tubuh Alisya mengejang sepanjang klimaksnya. Wanita ini adalah pemandangan terindah yg pernah disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti sebuah busur panah yg direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Daniel bahkan dapat merasakan pancaran dari klimaksnya menjalari gagang kemaluannya saat dia tetap menyetubuhinya.

Dia telah membuatnya mendapatkan klimaks seperti ini selama tiga kali, hingga dia nyaris rubuh di atas washtafel, menerima hentakannya, kemaluannya hampir terasa kelelahan untuk klimaks lagi. Tapi Daniel tahu bagaimana membawanya ke sana.

“Kamu mengharapkan air maniku, iya kan, Alisya? Kamu ingin agar aku mengisimu dan membuat kemaluanmu terlumuri air maniku yg sudah mengering saat berjEdwart di altar pernikahanmu, benar kan wanita jalangku?”

“Oh ya… yaaa!” sang pengantin wanita mulai kesulitan bernafas, dan Daniel dapat merasakannya menyempit. Daniel melesakkan gagang kemaluannya sedalam yg dia mampu, dgn setiap dorongan yg keras, dan segera saja dia merasakan sensasi terbakar itu รข€“ dan dia tahu dia tak mampu menahannya lebih lama lagi. Tepat saat kemaluannya melesak jauh ke dalam kemaluan calon istri putranya, menyemburkan cairan air mani yg banyak ke dalam kandungannya, dia merasakan tubuh Alisya menegang dan klimaks untuk sekali lagi.

Dicabutnya gagang kemaluannya keluar, menyaksikan lelehan air mani yg mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahannya. Daniel tersenyum. “Aku akan menunggu di mobil, Alisya…”

Perlahan Alisya bangkit, masih menggelenyar karena sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, kemaluannya berdenyut dan bocor.

“Mmm, baiklah Bapak.”

Dia memutuskan untuk melakukan “tradisinya” dan dan mengorek air mani Bapak Hendratmo dari pahanya dgn jari tangan kirinya yg dilingkari oleh liontin berlian pemberian Hendratmo.

Saat Daniel melihat mempelai wanita putranya masuk ke dalam mobil, sudah rapi dan bersih, terlihat segar serta berbinar wajahnya dan siap untuk upacara pernikahan, sedangkan baygannya yg terpantul dari kaca mobil adalah saat Alisya memandang tepat di matanya dan menjilat air maninya dari liontin berlian pemberian putranya…



Suka Cerita Sex Punya Mama Atau Derby

Web Khusus Dewasa Yang Berisakan Cerita Sex Hot Terbaru, Mesum, ABG, Ngentot, Tante, Janda, Sedarah, Mahasiswi, Selingkuh, Horny, Memek Perawan 18+. Istriku pernah menjadi model dalam iklan dan peran figure, aku sudah menikah 2 tahun yang lalu yang mana aku adalah seorang wirausahawan dalam bidang pompa, aku dan istriku terpaut umur 10 tahun, dia cantik dan seksi, aku cukup bannga bisa menikahi Derby sang istriku, wajahnya mirip mertuaku usianya dia diatas aku 4 tahun dia mempunyai usaha dibidang berlian dan dia adalah istri ketiga dari suaminya yang mana merupakan istri penjabat, karena istri ketiga jadi suaminya jarang ada di rumah, paling-paling sebulan sekali. Sehingga Mama Mona bersibuk diri dengan berjualan berlian.
Suka Cerita Sex Punya Mama Atau Derby


Aku tinggal bersama istriku di rumah ibunya, walau aku sndiri punya rumah tapi karena menurut istriku, ibunya sering kesepian maka aku tinggal di "Pondok Mertua Indah".

Aku yang sibuk sekali dengan bisnisku, sementara Mama Mona juga sibuk, kami jadi kurang banyak berkomunikasi tapi sejak istriku jadi bintang sinetron 6 bulan lalu, aku dan Mama Mona jadi semakin akrab malahan kami sekarang sering melakukan hubungan suami istri, inilah ceritanya.

Sejak istriku sibuk syuting sinetron, dia banyak pergi keluar kota, otomatis aku dan mertuaku sering berdua di rumah, karena memang kami tidak punya pembantu. Tiga bulan lalu, ketika istriku pergi ke Jogja, setelah kuantar istriku ke stasiun kereta api, aku mampir ke rumah pribadiku dan baru kembali ke rumah mertuaku kira-kira jam 11.00 malam. Ketika aku masuk ke rumah aku terkaget, rupanya mertuaku belum tidur. Dia sedang menonton TV di ruang keluarga.

"Eh, Mama.. belum tidur.."

"Belum, Tom.. saya takut tidur kalau di rumah belum ada orang.."

"Oh, Maaf Ma, saya tadi mampir ke rumah dulu.. jadi agak telat.."

"Derby.. pulangnya kapan?"

"Ya.. kira-kira hari Rabu, Ma.. Oh.. sudah malam Ma, saya tidur dulu.."

"Ok.. Tom, selamat tidur.."

Kutinggal Mama Mona yang masih nonton TV, aku masuk ke kamarku, lalu tidur. Keesokannya, Sabtu Pagi ketika aku terbangun dan menuju ke kamar makan kulihat Mama Mona sudah mempersiapkan sarapan yang rupanya nasi goreng, makanan favoritku.

"Selamat Pagi, Tom.."

"Pagi.. Ma, wah Mama tau aja masakan kesukaan saya."

"Kamu hari ini mau kemana Tom?"

"Tidak kemana-mana, Ma.. paling cuci mobil.."

"Bisa antar Mama, Mama mau antar pesanan berlian."

"Ok.. Ma.."

Hari itu aku menemani Mama pergi antar pesanan dimana kami pergi dari jam 09.00 sampai jam 07.00 malam. Selama perjalanan, Mama menceritakan bahwa dia merasa kesepian sejak Derby makin sibuk dengan dirinya sendiri dimana suaminya pun jarang datang, untungnya ada diriku walaupun baru malam bisa berjumpa. Sejak itulah aku jadi akrab dengan Mama Mona.

Sampai di rumah setelah berpergian seharian dan setelah mandi, aku dan Mama nonton TV bersama-sama, dia mengenakan baju tidur modelnya baju handuk sedangkan aku hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Tiba-tiba Mama menyuruhku untuk memijat dirinya.

"Tom, kamu capek nggak, tolong pijatin leher Mama yach.. habis pegal banget nih.."

"Dimana Ma?"

"Sini.. Leher dan punggung Mama.."

Aku lalu berdiri sementara Mama Mona duduk di sofa, aku mulai memijat lehernya, pada awalnya perasaanku biasa tapi lama-lama aku terangsang juga ketika kulit lehernya yang putih bersih dan mulus kupijat dengan lembut terutama ketika kerah baju tidurnya diturunkan makin ke bawah dimana rupanya Mama Mona tidak mengenakan BH dan payudaranya yang cukup menantang terintip dari punggungnya olehku dan juga wangi tubuhnya yang sangat menusuk hidungku.

"Maaf, Ma.. punggung Mama juga dipijat.."

"Iya.. di situ juga pegal.."

Dengan rasa sungkan tanganku makin merasuk ke punggungnya sehingga nafasku mengenai lehernya yang putih, bersih dan mulus serta berbulu halus. Tiba-tiba Mama berpaling ke arahku dan mencium bibirku dengan bibirnya yang mungil nan lembut, rupanya Mama Mona juga sudah mulai terangsang.

"Tom, Mama kesepian.. Mama membutuhkanmu.." Aku tidak menjawab karena Mama memasukkan lidahnya ke mulutku dan lidah kami bertautan. Tanganku yang ada di punggungnya ditarik ke arah payudaranya sehingga putingnya dan payudaranya yang kenyal tersentuh tanganku.

Hal ini membuatku semakin terangsang, dan aku lalu merubah posisiku, dari belakang sofa, aku sekarang berhadapan dengan Mama Mona yang telah meloloskan bajunya sehingga payudaranya terlihat jelas olehku.

Aku tertegun, rupanya tubuh Mama Mona lebih bagus dari milik anaknya sendiri, istriku. Aku baru pertama kali ini melihat tubuh ibu mertuaku yang toples.

"Tom, koq bengong, khan Mama sudah bilang, Mama kesepian.."

"iya.. iya.. iya Mah,"

Ditariknya tanganku sehingga aku terjatuh di atas tubuhnya, lalu bibirku dikecupnya kembali. Aku yang terangsang membalasnya dengan memasukkan lidahku ke mulutnya. Lidahku disedot di dalam mulutnya. Tanganku mulai bergerilya pada payudaranya. Payudaranya yang berukuran 36B sudah kuremas-remas, putingnya kupelintir yang membuat Mama Mona menggoyangkan tubuhnya karena keenakan.

Tangannya yang mungil memegang batangku yang masih ada di balilk celana pendekku. Diusap-usapnya hingga batangku mulai mengeras dan celana pendekku mulai diturunkan sedikit, setelah itu tangannya mulai mengorek di balik celana dalamku sehingga tersentuhlah kepala batangku dengan tangannya yang lembut yang membuatku gelisah.

Keringat kami mulai bercucuran, payudaranya sudah tidak terpegang lagi tanganku tapi mulutku sudah mulai menari-nari di payudaranya, putingnya kugigit, kuhisap dan kukenyot sehingga Mama Mona kelojotan, sementara batangku sudah dikocok oleh tangannya sehingga makin mengeras.

Tanganku mulai meraba-raba celana dalamnya, dari sela-sela celana dan pahanya yang putih mulus kuraba vaginanya yang berbulu lebat. Sesekali kumasuki jariku pada liang vaginanya yang membuat dirinya makin mengelinjang dan makin mempercepat kocokan tangannya pada batangku.

Hampir 10 menit lamanya setelah vaginanya telah basah oleh cairan yang keluar dengan berbau harum, kulepaskan tanganku dari vaginanya dan Mama Mona melepaskan tangannya dari batangku yang sudah keras.

Mama Mona lalu berdiri di hadapanku, dilepaskannya baju tidurnya dan celana dalamnya sehingga aku melihatnya dengan jelas tubuh Mama Mona yang bugil dimana tubuhnya sangat indah dengan tubuh tinggi 167 cm, payudara berukuran 36B dan vagina yang berbentuk huruf V dengan berbulu lebat, membuatku menahan ludah ketika memandanginya.

"Tom, ayo.. puasin Mama.."

"Ma.. tubuh Mama bagus sekali, lebih bagus dari tubuhnya Derby.."

"Ah.. masa sih.."

"Iya, Ma.. kalau tau dari 2 tahun lalu, mungkin Mamalah yang saya nikahi.."

"Ah.. kamu bisa aja.."

"Iya.. Ma.. bener deh.."

"Iya sekarang.. puasin Mama dulu.. yang penting khan kamu bisa menikmati Mama sekarang.."

"Kalau Mama bisa memuaskan saya, saya akan kawini Mama.."

Mama lalu duduk lagi, celana dalamku diturunkan sehingga batangku sudah dalam genggamannya, walau tidak terpegang semua karena batangku yang besar tapi tangannya yang lembut sangat mengasyikan.

"Tom, batangmu besar sekali, pasti Derby puas yach."

"Ah.. nggak. Derby.. biasa aja Ma.."

"Ya.. kalau gitu kamu harus puasin Mama yach.."

"Ok.. Mah.."

Mulut mungil Mama Mona sudah menyentuh kepala batangku, dijilatnya dengan lembut, rasa lidahnya membuat diriku kelojotan, kepalanya kuusap dengan lembut. Batangku mulai dijilatnya sampai biji pelirku, Mama Mona mencoba memasukkan batangku yang besar ke dalam mulutnya yang mungil tapi tidak bisa, akhirnya hanya bisa masuk kepala batangku saja dalam mulutnya.

Hal ini pun sudah membuatku kelojotan, saking nikmatnya lidah Mama Mona menyentuh batangku dengan lembut. Hampir 15 menit lamanya batangku dihisap membuatnya agak basah oleh ludah Mama Mona yang sudah tampak kelelahan menjilat batangku dan membuatku semakin mengguncang keenakan.

Setelah itu Mama Mona duduk di Sofa dan sekarang aku yang jongkok di hadapannya. Kedua kakinya kuangkat dan kuletakkan di bahuku. Vagina Mama Mona terpampang di hadapanku dengan jarak sekitar 50 cm dari wajahku, tapi bau harum menyegarkan vaginanya menusuk hidungku.

"Ma, Vagina Mama wangi sekali, pasti rasanya enak sekali yach."

"Ah, masa sih Tom, wangi mana dibanding punya Derby dari punya Mama."

"Jelas lebih wangi punya mama dong.."

"Aaakkhh.."

Vagina Mama Mona telah kusentuh dengan lidahku. Kujilat lembut liang vagina Mama Mona, vagina Mama Mona rasanya sangat menyegarkan dan manis membuatku makin menjadi-jadi memberi jilatan pada vaginanya.

"Ma, vagina.. Mama sedap sekali.. rasanya segar.."

"Iyaah.. Tom, terus.. Tom.. Mama baru kali ini vaginanya dijilatin.. ohh.. terus.. sayang.."

Vagina itu makin kutusuk dengan lidahku dan sampai juga pada klitorisnya yang rasanya juga sangat legit dan menyegarkan. Lidahku kuputar dalam vaginanya, biji klitorisnya kujepit di lidahku lalu kuhisap sarinya yang membuat Mama Mona menjerit keenakan dan tubuhnya menggelepar ke kanan ke kiri di atas sofa seperti cacing kepanasan.

"Ahh.. ahh.. oghh oghh.. awww.. argh.. arghh.. lidahmu Tom.. agh, eena.. enakkhh.. aahh.. trus.. trus.." Klitoris Mama Mona yang manis sudah habis kusedot sampai berulang-ulang, tubuh Mama Mona sampai terpelintir di atas sofa, hal itu kulakukan hampir 30 menit dan dari vaginanya sudah mengeluarkan cairan putih bening kental dan rasanya manis juga, cairan itupun dengan cepat kuhisap dan kujilat sampai habis sehingga tidak ada sisa baik di vaginanya maupun paha mama Mona.

"Ahg.. agh.. Tom.. argh.. akh.. akhu.. keluar.. nih.. ka.. kamu.. hebat dech.." Mama Mona langsung ambruk di atas sofa dengan lemas tak berdaya, sementara aku yang merasa segar setelah menelan cairan vagina Mama Mona, langsung berdiri dan dengan cepat kutempelkan batang kemaluanku yang dari 30 menit lalu sudah tegang dan keras tepat pada liang vagina Mama Mona yang sudah kering dari cairan. Mama Mona melebarkan kakinya sehingga memudahkanku menekan batangku ke dalam vaginanya, tapi yang aku rasakan liang vagina Mama Mona terasa sempit, aku pun keheranan.

"Ma.. vagina Mama koq sempit yach.. kayak vagina anak gadis."

"Kenapa memangnya Tom, nggak enak yach.."

"Justru itu Ma, Mama punya sempit kayak punya gadis. Saya senang Ma, karena vagina Derby sudah agak lebar, Mama hebat, pasti Mama rawat yach?"

"Iya, sayang.. walau Mama jarang ditusuk, vaginanya harus Mama rawat sebaik-baiknya, toh kamu juga yang nusuk.."

"Iya Ma, saya senang bisa menusukkan batang saya ke vagina Mama yang sedaap ini.."

"Akhh.. batangmu besar sekali.."

Vagina Mama Mona sudah terterobos juga oleh batang kemaluanku yang diameternya 4 cm dan panjangnya 28 cm, setelah 6 kali kuberikan tekanan.

Pinggulku kugerakan maju-mundur menekan vagina Mama Mona yang sudah tertusuk oleh batangku, Mama Mona hanya bisa menahan rasa sakit yang enak dengan memejamkan mata dan melenguh kenikmatan, badannya digoyangkan membuatku semakin semangat menggenjotnya hingga sampai semua batangku masuk ke vaginanya.

"Tom.. nggehh.. ngghh.. batangmu menusuk sampai ke perut.. nich.. agghh.. agghh.. aahh.. eenaakkhh.." Aku pun merasa keheranan karena pada saat masukkan batangku ke vaginanya Mama Mona terasa sempit, tapi sekarang bisa sampai tembus ke perutnya.

Payudara Mama Mona yang ranum dan terbungkus kulit yang putih bersih dihiasi puting kecil kemerahan sudah kuterkam dengan mulutku. Payudara itu sudah kuhisap, kujilat, kugigit dan kukenyot sampai putingnya mengeras seperti batu kerikil dan Mama Mona belingsatan, tangannya membekap kepalaku di payudaranya sedangkan vaginanya terhujam keras oleh batangku selama hampir 1 jam lamanya yang tiba-tiba Mama Mona berteriak dengan lenguhan karena cairan telah keluar dari vaginanya membasahi batangku yang masih di dalam vaginanya, saking banyaknya cairan itu sampai membasahi pahanya dan pahaku hingga berasa lengket.

"Arrgghh.. argghh.. aakkhh.. Mama.. keluar nich Tom.. kamu belum yach..?" Aku tidak menjawab karena tubuhnya kuputar dari posisi terlentang dan sekarang posisi menungging dimana batangku masih tertancap dengan kerasnya di dalam vagina Mama Mona, sedangkan dia sudah lemas tak berdaya.

Kuhujam vagina Mama Mona berkali-kali sementara Mama Mona yang sudah lemas seakan tidak bergerak menerima hujaman batangku, Payudaranya kutangkap dari belakang dan kuremas-remas, punggungnya kujilat.

Hal ini kulakukan sampai 1 jam kemudian di saat Mama Mona meledak lagi mengeluarkan cairan untuk yang kedua kalinya, sedangkan aku mencapai puncak juga dimana cairanku kubuang dalam vagina Mama Mona hingga banjir ke kain sofa saking banyaknya cairanku yang keluar. "Akhh.. akh.. Ma, Vagina Mama luar biasa sekali.."

Aku pun ambruk setelah hampir 2,5 jam merasakan nikmatnya vagina mertuaku, yang memang nikmat, meniban tubuh Mama Mona yang sudah lemas lebih dulu.

Aku dan Mama terbangun sekitar jam 12.30 malam dan kami pindah tidur ke kamar Mama Mona, setelah terbaring di sebelah Mama dimana kami masih sama-sama bugil karena baju kami ada di sofa, Mama Mona memelukku dan mencium pipiku.

"Tom, Mama benar-benar puas dech, Mama pingin kapan-kapan coba lagi batangmu yach, boleh khan.."

"Boleh Ma, saya pun juga puas bisa mencoba vagina Mama dan sekarangpun yang saya inginkan setiap malam bisa tidur sama Mama jika Derby nggak pulang."

"Iya, Tom.. kamu mau ngeloni Mama kalau Derby pergi?"

"Iya Ma, vagina Mama nikmat sih."

"Air manimu hangat sekali Tom, berasa dech waktu masuk di dalam vagina Mama."

"Kita Main lagi Ma..?"

"Iya boleh.."

Kami pun bermain dalam nafsu birahi lagi di tempat tidur Mama hingga menjelang ayam berkokok baru kami tidur. Mulai hari itu aku selalu tidur di kamar Mama jika istriku ada syuting di luar kota dan ini berlangsung sampai sekarang.